Halaman

Sabtu, 31 Mei 2014

CRISTIANO RONALDO BUGIL DI MAJALAH VOGUE

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Bintang Real Madrid, Cristriano Ronaldo, kembali menjadi pusat perhatian, tapi kali ini bukan lewat aksinya yang memukau di lapangan melainkan karena keberaniannya berpose tanpa busana.

Pose menghebohkan ditampilkkan Ronaldo pada sampul majalah Vogue edisi Spanyol. Pemain asal Portugal ini berpose bersama kekasihnya yang juga model asal Rusia, Irina Shayk.

Dalam foto haril jepretan fotografer mode terkenal, Mario Testino, ini Ronaldo tampil telanjang bulat. Hanya Irina Shayk yang berdiri di depannya yang membuat bagian tubuh paling intim dari Pemain Terbaik Dunia 2013 ini menjadi terlindungi.

Sementara pada foto hitam-putih yang terdapat di halaman dalam majalah tersebut menampilkan Ronaldo yang tengah mencoba membuka pakaian kekasihnya tersebut.


TEMPO 




CEWEK ABG INI MINTA DIPERKOSA, COWOKNYA YANG DIPENJARA

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Seorang ABG berusia 15 tahun di Sumenep, Jawa Timur (Jatim) meminta diperkosa pacarnya, Spd (24). Meski demikian, SPD harus tetap merasakan dinginnnya penjara dan dihukum selama 2 tahun.

Kasus bermula kala pacaran mereka menginjak bulan ke-6. Pada suatu malam, ABG itu mengirim SMS ke Spd untuk bertemu di pematang sawah pada kurun 2013. Lantas mereka pun bertemu dan memadu kasih. Dalam pertemuan itu, anak kecil itu merayu Spd untuk mau berhubungan badan dengannya.

"Saya merayu duluan dan menawari jiwa raga saya diserahkan ke dia," kata korban seperti tertuang dalam putusan PN Sumenep yang dilansir website Mahkamah Agung (MA), Sabtu (31/5/2014).

Atas rayuan kekasihnya itu, Spd menolak berhubungan badan karena takut memalukan orang tua dan takut dosa. Tapi gadis tersebut memaksa untuk berhubungan badan. Spd akhirnya terpojok dan melakukan persetubuhan itu.

"Terimakasih Kak, saya tidak menyesal karena saya mencintai Kakak," kata korban sesaat setelah bersetubuh.

Setelah itu, keduanya pulang. Tidak berapa lama, kasus ini tercium orang tua ABG tersebut dan melaporkan hal ini ke polisi sebab orang tua ABG itu tidak merestui hubungan pacaran keduanya.

"Saya tahu itu dosa dan yang menanggung dosa, saya sendiri," kata korban yang mengaku pernah menonton blue film itu.

Mendapati laporan ini, polisi memberkas kasus tersebut dan melimpahkan ke pengadilan. Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Sumenep menyatakan berdasarkan fakta-fakta yuridis dihubungkan dengan pengertian-pengertian delil dalam UU Perlindungan Anak, maka unsur membujuk anak untuk melakukan persetubuhan tidak terpenuhi menurut hukum.

Namun muncul pertanyaan selanjutnya, yaitu apakah tidak terpenuhinya unsur melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain secara adequate menyebabkan unsur ini tidak terpenuhi menurut hukum?

"Terdakwa yang berusia dewasa bisa menolak persetubuhan itu oleh karena itu tetap menyatakan unsur ini terpenuhi menurut hukum," putus majelis PN Sumenep memaparkan alasan mengapa Spd harus tetap bertanggungjawab.

Duduk dalam majelis tersebut Deka Rachman sebagai ketua dengan Isdaryanto dan Yukla Yushi sebagai anggota. Meski demikian, majelis hakim menjatuhkan hukuman di bawah tuntutan jaksa yaitu 5 tahun penjara. Alasannya antara lain karena terdakwa masih berusia muda sehingga ada harapan untuk memperbaiki perbuatannya, terdakwa menyesali perbuatannya dan terdakwa belum pernah dihukum.

"Menjatuhkan pidana kepada terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 2 tahun dengan pidana denda sebesar Rp 60 juta. Jika pidana denda tersebut tidak dibayar maka diganti dengan pidana penjara selama 3 bulan," putus majelis pada 28 Mei 2014 lalu.

DETIK 




ORANGTUA KORBAN SHOCK ANAKNYA DICABULI TEMAN MAINNYA

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Sebanyak 13 bocah diduga dicabuli oleh teman sepermainannya, Ak (12), di pemukiman Kelurahan Tengah, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Ak, yang merupakan bocah kelas 6 SD, ini diduga mencabuli 13 teman sepermainannya dengan cara memegang kelamin, serta memasukkan tangan dan kayu ke dubur korban.

Mengetahui hal tersebut, keluarga korban pun sampai saat ini masih shock.

"Bapak dan ibunya, Sr (35) dan Bu (45), masih shock. Karena itu nggak bisa diajak bicara masalah ini. Mereka benar-benar nggak menyangka anaknya jadi korban pencabulan," kata Ed (44), paman dua korban, Ri (9) dan Fi (6), ditemui di rumahnya, Jumat (30/5/2014) sore.

Ia pun mengaku, kedua keponakannya tersebut diketahui menjadi korban pencabulan, setelah teman sepermainannya, Re (9), mengadu kepada orangtuanya.

"Orangtua Re menanyakan ke teman-teman sepermainannya. Ternyata, ada 13 anak yang jadi korbannya Ak, termasuk keponakan saya. Kami langsung adakan pertemuan dengan keluarga pelaku," katanya.

Namun, ia menyayangkan, keluarga pelaku tidak meminta maaf kepada keluarga korban. Bahkan keluarga pelaku menganggap hal tersebut sebagai kenakalan anak-anak yang biasa.

TRIBUN 




HEBOH SEORANG IBU LAHIRKAN ANAK TOKEK

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Berita lahirnya seekor anak tokek dari rahim seorang ibu di Kampung Oemolo Kecamatan Oemofa, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur mengegerkan warga.

Pasangan suami istri, Wempi Aplugi dan Nelcy Nubatonis, warga desa Oemolo, tak menyangka bakal melahirkan bayi seekor tokek dengan panjang sekira 15 centimeter.

Josephin Wadu, seorang petugas medis yang membantu proses kelahiran di rumah Nelcy mengaku kaget saat melihat yang keluar dari rahim sang ibu bukan bayi melainkan seeekor anak tokek.

“Kita tolong ibu itu melahirkan di rumahnya, karena jarak rumah ke puskesmas agak jauh, tetapi kita kaget kok yang keluar anak tokek,”ungkap Josephin Wadu, Jumat (30/5/2014) malam.

Josephin menyebutkan, usai melahirkan, pasien tersebut langsung dibawa ke puskesmas terdekat sekira pada pukul 14.30 Wita bersama anak tokek itu untuk dirawat secara medis.

Menurut perhitungan medis, wanita biasanya melahirkan saat kandungan berumur 9 bulan.“Umur kandungan pasien baru delapan bulan.”Tambah Josephin.

Peristiwa lahirnya tokek dari rahim manusia itu kini menjadi buah bibir warga yang mengetahui kejadian aneh itu.

OKEZONE 




KOMNAS HAM: INTOLERANSI DI YOGYAKARTA SUDAH DI AMBANG BATAS

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Kasus kekerasan berbau Agama kembali terjadi di Yogya. Setelah sebelumnya, juga terjadi kasus-kasus kekerasan serupa, namun tidak terselesaikan secara tuntas.

Kasus kekerasan berbau Agama, terakhir terjadi di perumahan STIE YKPN, Tanjungsari, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman, Kamis(29/5) malam. Rumah warga milik Julius Felicianus di komplek tersebut diserang sekelompok orang, saat sedang menggelar kegiatan keagamaan. Akibatnya, sejumlah orang terluka dan harus menjalani perawatan di RS, satu di antara korban merupakan seorang anak perempuan berusia 8 tahun.

Komisioner Komnas HAM, Siti Noor Laela menyatakan, dalam kasus penyerangan tersebut kelompok penyerang dan yang diserang bertetanggga dan teman bermain waktu kecil. Aksi penyerangan oleh tetangga dan teman bermain waktu kecil, dapat menjadi indikator tentang toleransi di Yogya yang berkurang.

"Intoleransi di Yogya sudah diambang batas. Sehingga harus betul-betul menjadi perhatian Pemda dan aparat penegak hukum,"kata Siti di Balck Canyon Coffe, Babarsari, Sleman, Jumat(30/5/2014).

Menurutnya, kasus-kasus kekerasan serupa yang terus berulang, tidak lepas dari penegakan hukum yang lemah. Beberapa kali peristiwa penyerangan dan kekerasan yang terjadi di Yogya, proses hukumnya tidak berjalan maksimal. Diantaranya kasus penyerangan LKiS, pelarangan ibadah di Gunungkidul, penyerangan diskusi di Godean, semua proses hukumnya mandeg dan seperti ada pembiaran.

"Pembiaran yang terjadi berdampak pada semakin banyaknya kasus-kasus kekerasan. Ini akibat kasus kekerasan lain yang tidak di proses. Para pelaku merasa kebal hukum karena tidak ada penegakan hukum,"katanya.

Komnas HAM mendesak Polisi mengusut tuntas kasus penyerangan tersebut. Apalagi identitas dari para pelaku penyerangan, sudah diketahui. Sehingga tidak masuk akal, jika kasus ini tidak ada tindak lanjutnya.

DETIK




BOCAH DISETRUM SAAT WARGA KATOLIK DI SLEMAN DISERANG

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Saat penyerangan terhadap belasan umat Katolik yang sedang beribadat Rosario di rumah Julius Felicianus, Direktur Galangpress, di Perumahan YKPN, Tanjungsari, Desa Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman, Kamis malam, 29 Mei 2014, ada anak kecil yang disetrum.

Anak berusia delapan tahun berinisial T itu saat ini sangat trauma dan masih dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta. "Saat penyerangan, T disetrum di tangannya," kata Siti Noor Laila, Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Jumat malam, 30 Mei 2014.

Laila yang sudah menjenguk para korban penyerangan itu menyatakan saat penyerangan pertama oleh sekelompok orang berjubah dan bercelana congklang itu, T dilindungi oleh bapaknya yang bernama Nur Wahid.

Alat setrum yang digunakan penyerang adalah alat setrum portabel yang saat ini sudah banyak dijual bebas di pasaran. Saat peribadatan, Nur Wahid dan T sedang menunggu istri/ibunya yang sedang beribadah. Penyerang melempari korban dan rumah dengan batu dan pot bunga.

Nur Wahid luka di hidung, kepala bagian belakang bocor, dan tangan luka lecet-lecet. "Secara psikis dia paling parah," kata Laila.

Sebab, saat itu ia pertama kali yang diserang dan berusaha melindungi anaknya serta jemaat lain supaya masuk ke gudang rumah Julius. Nur Wahid juga minta kepada Komnas HAM untuk melindungi keluarganya karena mereka sangat ketakutan akibat kasus itu.

Julius yang diserang juga mengalami luka berat. Yaitu luka robek di kepala dan tulang punggung sebelah kiri patah. Ia juga dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta.

Karena menyangkut anak di bawah umur, Laila akan menggandeng Komisi Perlindungan Anak Indonesia untuk menyikapi kasus ini. Selain itu untuk perlindungan saksi dan korban ia akan menggandeng Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

"Orang berkeyakinan dan beribadah itu dilindungi konstitusi," kata Laila.

Ia menambahkan cara kekerasan yang dilakukan sekelompok massa itulah yang melanggar hak asasi manusia. Sehingga kasus ini harus dituntaskan oleh penegak hukum, siapa pun pelakunya dan dari organisasi apa pun.

TEMPO