Halaman

Sabtu, 17 Februari 2018

PASANG STATUS HOAX SOAL PKI, PRIA DI SUKABUMI DIAMANKAN POLISI



Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)
 
Gara-gara memasang status hoax soal PKI di media sosial Facebook, seorang pria berinisial Ri (22) warga Desa Citepus, Kabupaten Sukabumi terpaksa harus berurusan dengan aparat kepolisian Resor Sukabumi, Jumat (13/2/2018).

Peristiwa itu bermula saat Ri membuat status di salah satu grup Palabuhanratu (daerah di Kabupaten Sukabumi). Saat itu Ri membuat caption bertuliskan "PKI pura2 gelo di palabuhanratu.. Beres beunang tah digebugan (PKI pura-pura gila di Palabuhanratu, sudah dapat nih dipukuli)," tulis Ri dalam postingan disertai gambar seorang pria tengah dihakimi massa.

Postingan Ri kemudian direspons sejumlah warganet lainnya. Mendapati adanya unggahan seperti itu kepolisian kemudian bergerak dan mengecek kebenaran informasi yang diposting Ri. Belakangan diketahui jika kabar yang dia pasang itu hoax alias tidak benar.


"Dia mem-posting status soal PKI tertangkap lalu dihakimi massa, tim cyber kami kemudian berkoordinasi dengan Satuan Reserse dan Kriminal Polres Sukabumi (Satreskrim) untuk melakukan pengecekan dan ternyata peristiwa itu tidak ada alias hoax," kata Kapolres Sukabumi, AKBP Nasriadi kepada detikcom melalui sambungan telepon.

"Yang bersangkutan diamankan di rumahnya, melihat kedatangan petugas dia kaget. Saat ini dia masih dalam pemeriksaan personel Satreskrim," imbuh Nasriadi.

Kepada polisi Ri mengaku iseng membuat postingan itu, foto yang dia sertakan dalam postingan ternyata hasil mengambil dari situs pencarian Google. "Dia asal nyomot dari Google, maksud dia memposting itu hanya sebatas untuk kewaspadaan. Meski begitu, cara yang dia lakukan salah dan bisa menyesatkan warganet lainnya serta membuat resah," lanjut Nasriadi.

Nasriadi mengimbau, agar warganet tidak mudah terprovokasi dengan kabar di media sosial sebelum melakukan cek dan ricek. "Setiap postingan yang meresahkan lebih baik bertabayyun lebih dulu, pemosting juga untuk berhati-hati dalam membuat postingan di media sosial. Salah-salah bisa terjerat UU ITE," tandansnya.

DETIK

YANG TERJADI DALAM PENGANIAYAAN 'PKI' DI CILEUNGSI



Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Salah satu warung kelontong di Gang Al-Furqon, Desa Dayeuh, Cileungsi, Jawa Barat, sepi pembeli. Kontras dengan beberapa warung lain yang berdekatan. Tak ada kursi di depan warung itu, sedangkan warung lain ramai. Banyak yang duduk dan nongkrong di sana.

Pria tua pemilik warung sepi itu tak menyangka saat ia terlelap, warungnya menjadi sangat ramai.

Sekitar pukul 03.30 dini hari, Sabtu (10/2/2018), seorang tunawisma dituduh anggota (atau simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI)—partai yang sudah dinyatakan terlarang oleh pemerintah sejak lebih dari setengah abad lalu—sedang diinterogasi di depan warungnya.

Hampir seluruh media nasional memberitakan warga menginterogasi dan menganiaya orang tersebut setelah menuduhnya PKI. Namun, berdasarkan penelusuran lapangan kami, faktanya tidak demikian.

Pria tunawisma berinisial S itu keluar dari rumah keluarganya di Pemalang, Jawa Tengah, sejak 2017. Tanpa sanak saudara di perantauan, S biasa tidur di mana pun, termasuk di salah satu masjid yang jaraknya tak sampai 100 meter dari pintu masuk Gang Al-Furqon, malam hari sebelum penganiayaan.

Tertempel di tubuhnya sandal jepit, kemeja warna gelap yang sudah agak lusuh, celana jins warna biru, dan sebuah tas.

Ketika melanjutkan perjalanan, sekitar pukul 21.00, S dihampiri dua orang santri yang sedang ronda di warung yang berada di mulut Gang Al-Furqon. Dua orang ini kemudian menggiring S menyusuri gang, melewati beberapa rumah warga dan SMK Bina Teknika yang sudah tidak ada aktivitas apapun.

S digiring sejauh 200 meter. Di warung kelontong Pak Tua tadi, S diinterogasi. Tasnya digeledah. Ditemukan barang-barang antara lain: peta, baju lembaga swadaya masyarakat Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) warna hitam yang masih baru, dan cutter.

Salah seorang di antaranya pergi untuk memanggil temannya yang lain. Tak lama kemudian, tiga orang lain datang. Mereka datang tidak dengan tangan kosong. Dua bilah senjata tajam, pedang, dan golok yang masih disarung dibawa serta. Menurut keterangan polisi, mereka mengantisipasi kalau-kalau S membawa senjata tajam dan melawan.

Di bawah cahaya lampu jalan, lima warga itu memaksa S membuka kemeja lusuhnya. S bergeming sembari memegangi dengkul. Salah satu dari mereka tidak sabar dan membuka paksa kemeja hingga robek. Setelah telanjang dada, S dipaksa mengenakan baju GMBI.

Menurut orang-orang ini, S pura-pura gila dan sengaja menyembunyikan baju GMBI.

"Pakai aja baju GMBI, noh," kata satu orang.

Seorang yang lain menimpali: "Takut ketahuan?"

Yang lain kembali memaksa: "Pakai tuh baju GMBI-nya,"

"Anak buah Anton dia," ujar seorang lainnya. Nama yang disebut kemungkinan merujuk pada Anton Charliyan, mantan Dewan Pembina GMBI sekaligus calon Wakil Gubernur Jawa Barat.

Dihardik sedemikian rupa, C masih diam. Kesal, salah seorang warga yang memegang golok berteriak kembali: "Pura-pura tolol kamu, ya?"

Keributan ini terdengar warga lain yang tinggal di sekitar MTS Al-Furqon. Mereka keluar rumah mendatangi lokasi. Lainnya mengamati dari pintu rumah masing-masing. Salah seorang dari mereka menghubungi ketua RW 01, Ahmadi. Ahmadi kemudian menghubungi Bintara Pembina Desa (Babinsa). Keduanya mendatangi lokasi kejadian.

Sama seperti lima orang pertama, Ahmadi juga menginterogasi S. Ia banyak bertanya terutama soal baju GMBI. "Dapat dari mana? Ini masih baru," kata Ahmadi, mengingat ucapannya subuh itu. Pikiran Ahmad sudah ke mana-mana, meski ragu kalau S memang tunawisma atau orang dengan gangguan mental.

Semua intimidasi itu terekam dalam video yang diambil warga berinisial I. Hanya dia yang saat ini identitasnya sudah ketahuan. Empat yang lain belum. Baik polisi atau warga sekitar tidak mau buka mulut.

Sekitar pukul enam pagi, video tersebut sudah beredar di grup WhatsApp warga RT 01, RT 02, dan RT 03 Desa Dayeuh. Beberapa warga yang tahu kejadian itu mengatakan kalau S diinterogasi karena mencurigakan, tidak ada embel-embel yang lain. Warga juga mengaku tak banyak tahu soal GMBI.

Dua jam setelah tersebar di grup WhatsApp lingkungan, seorang warga RT 01 berinisial NSAU mengunggah video itu ke Facebook.

Di sini pangkal persoalannya: NSAU menambah embel-embel "PKI" dalam keterangan video. Padahal, baik saat diinterogasi oleh lima orang pertama dan RT, sedikit pun kata itu tidak keluar. S dianiaya karena ia dituduh anggota LSM GMBI dan pura-pura gila.

Video itu lantas viral. Hanya dua jam setelah diunggah, video ini sudah dibagi lebih dari 500 kali, dan berlipat jadi 2.500 pukul 14.00.

TIRTO

SURVEI INDO BAROMETER: PUBLIK TAK PERCAYA JOKOWI PENDUKUNG PKI



Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Isu Presiden Joko Widodo atau Jokowi merupakan pendukung Partai Komunis Indonesia atau PKI tak dipercaya oleh sebagian masyarakat Indonesia. Hal ini tercermin dari survei yang digelar Indo Barometer.

Sebanyak 45,9 persen responden menyatakan Jokowi bukan pendukung PKI. Hanya sekitar 2,5 persen yang percaya Jokowi pendukung PKI. Sedangkan 51,6 persen responden tak tahu atau tak menjawab.

“Ini merupakan survei terhadap konstelasi calon, penilaian calon di mata publik dalam aspek yang menentukan dan menjadi perhatian publik,” kata Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari melalui keterangan tertulis, 16 Februari 2018.

Isu lain terkait Jokowi juga ditanyakan dalam survei itu. Terhadap pertanyaan apakah responden percaya Jokowi merupakan antek Republik Rakyat Cina, sebanyak 43,2 persen menyatakan Jokowi bukan antek RRC. Hanya 5,8 persen yang percaya dengan isu tersebut dan sebagian besar reponden sebanyak 51 persen menyatakan tidak tahu atau tidak menjawab.

Dalam survei itu juga ditanyakan, apakah Jokowi merupakan pemimpin yang otoriter. Sebanyak 57,4 persen percaya jika Jokowi otoriter, sedangkan 4 persen tak percaya, dan sisanya menjawab tak tahu. Survei yang dilakukan pada 23-30 Januari 2018 ini dilakukan terhadap 1.200 responden.

Qodari mengatakan, metode penarikan sampel yang digunakan adalah yaitu multistage random sampling. Teknik pengumpulan data tersebut berupa wawancara tatap muka dengan responden menggunakan kuisioner.

Sebelumnya, Jokowi sempat menanggapi isu PKI yang dikaitkan dengan dirinya. Jokowi mengaku tidak terima dirinya dikait-kaitkan dengan PKI, apalagi ia dituding melindungi komunisme.

“Pada saat PKI dibubarkan, umur saya baru tiga tahun. Enggak logis, (isunya) ditarik ke orang tua saya. Di zaman yang serba transparan ini, di era keterbukaan informasi saat ini, silakan saja dicek dan buktikan sendiri tuduhan-tuduhan itu,” kata dia.

TEMPO

VIDEO PKI DI BOGOR TERNYATA CUMA 'SETTINGAN', 6 PELAKU DIRINGKUS



Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)
 
Polres Bogor berhasil mengamankan enam pelaku dan penyebar video persekusi terhadap tunawisma yang dituduh komunis di Kampung Dayeuh, Kecamatan Cileungsi. Adapun kejadian tersebut terjadi pada Sabtu (10/2) dini hari.

"Kami sudah mengamankan pelaku sebanyak enam orang dan kita akan terus mengamankan yang main hakim sendiri," ujar Kapolres Bogor AKBP Andi Moch Dicky kepada JawaPos.com, Selasa (13/2).

Dia membeberkan, dua pelaku bertugas menyebarkan video persekusi itu di akun media sosial. Seorang di antaranya melakukan penghasutan dan menyebut kalau korban menganut paham ideologi terlarang tersebut.

"Empat orang lainnya adalah orang yang berada di TKP dan terekam pada video melakukan tindakan kekerasan," jelas Dicky.

Selain mengamankan pelaku, Polres Bogor juga mengamankan korban berinisial S (41). Setelah diperiksa, dia sama sekali tidak terkait dengan Partai Komunis Indonesia.

"Ternyata bahwa settingan tersebut adalah karangan dari si penyebar hoax itu sendiri," sebut Dicky.

Korban sendiri merupakan seorang tunawisma yang mengalami gangguan kejiwaan dan bukan berasal dari Bogor, melainkan dari daerah Pemalang.

"Oleh karena itu korban akan dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis dan dilakukan pemeriksaan kejiwaan," tambahnya.

Berkaca pada kasus tersebut, Dicky meminta agar masyarakat tidak mudah terprovokasi dan main hakim sendiri. Bila ada yang mencurigakan, lebih baik segera dilaporkan ke aparat setempat.

Dia menegaskan bahwa ancaman hukuman penyebar isu SARA dan kebencian, ataupun pencemaran nama baik di media sosial pun sangat tegas. Mereka dapat dijerat dengan Undang-Undang ITE yang ancaman hukumannya lebih dari lima tahun penjara.

"Saya imbau agar masyarakat lebih berhati-hati. Ada pepatah mengatakan mulutmu harimaumu. Untuk media sosial sendiri, jempol atau jarimu adalah harimaumu," pungkas Dicky.

Sebelumnya viral di media sosial, sebuah video dan foto terkait ditangkapnya seorang pria yang diduga sebagai pengikut paham ideologi komunis. Dalam video tersebut, korban diperlakukan secara kasar dengan cara pelecehan, kekerasan, dan pem-bully-an oleh sekelompok warga di Cileungsi, Kabupaten Bogor.

JAWAPOS

TERNYATA TIGA ANAK ELVI SUKAESIH DAN MENANTU DITANGKAP



Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Subdit 1 Ditresnarkoba Polda Metro Jaya menangkap kakak beradik Dhawiya Zaidah, Ali Zaenal Abidin dan Syehan, anak dari pedangdut Elvi Sukaesih, terkait kasus narkoba.

Selain ketiganya, polisi juga menggelandang Chauri Gita, istri Syehan dan pria bernama Muhamad yang tak lain adalah tunangan Dhawiya.

Menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono, penangkapan terhadap anak dan menantu mantan ratu dangdut itu dilakukan pada Jumat, 16 Februari 2018, sekitar pukul 00.30 Wib.

Tersangka kata Argo ditangkap di depan halaman garasi rumah Elvi Sukaesih di Jalan Usaha No.18 RT 01 RW 05, Dewi Sartika, Cawang, Jakarta Timur.

"Awalnya mendapat informasi dari masyarakat bahwa tersangka Muhamad sering lakukan transaksi narkotika di seputaran Cawang," katanya.

VIVA

ULAMA SEBUT TAK HARAM, WARGA SAUDI RAYAKAN HARI VALENTINE



Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)
 
Warga Arab Saudi merayakan Hari Valentine tanpa takut ditahan polisi syariah setelah fatwa yang mengizinkan perayaan tersebut beredar lewat akun Twitter.

Menurut kabar yang dilansir situs berita Arab News, Kamis (15/2), toko-toko bunga dan toko-toko hadiah membuka pintu lebarlebar tanpa gangguan atau penyitaan dari polisi syariah, yang sebelumnya melarang toko bunga buka pada Hari Valentine.

Seorang ulama Arab Saudi menyatakan perayaan Hari Valentina tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Pernyataan itu berlawanan dengan posisi garis keras yang diterapkan selama ini oleh polisi syariah Arab Saudi.

Sheik Ahmad Al-Ghamdi, mantan kepala polisi syariah Mekkah dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Arab News menyatakan umat muslim dapat merayakan kasih sayang pada 14 Februari.

"Merayakan Hari Valentine tidak bertentangan dengan ajaran Islam sama seperti Hari Nasional dan Hari Ibu," kata Al-Ghamdi dalam wawancara dengan Arab News yang juga dilansir kantor berita Reuters.

Pada 13 Februari, Dar Al-Ifta Al-Misriya atau Dewan Dekrit Keagamaan Mesir Ahmed Mamdouh mengeluarkan fatwa yang mengizinkan perayaan dan bertukar hadiah di Hari Valentine. "Tidak ada salahnya menetapkan satu hari untuk menunjukkan rasa cinta satu sama lain."

Mufti Agung Tunisia Othman Battikh juga membantah klaim bahwa Hari Valentine semata-mata tradisi Kristiani.

"Apapun yang membuat orang makin dekat adalah hal yang baik," kata dia sambil menambahkan bahwa umat muslim bisa merayakannya tanpa meninggalkan ajaran Islam.

Mohammed Al-Shahat Al-Jundi, anggota Pusat Riset Islam mengatakan bahwa perayaan tersebut membantu "menjaga hubungan kekeluargaan."

Putra Mahkota, Pangeran Mohammed bin Salman, mendorong Arab Saudi lebih moderat untuk memodernisasi kerajaan. Dia melonggarkan sejumlah batasan-batasan sosial.

Selain mengurangi peran polisi syariah, sejumlah perubahan lain seperti mengizinkan perempuan mengemudi, menonton sepak bola di stadion, menonton film, konser publik menjadi rangkaian reformasi yang dilakukan Pangeran Mohammed.

Di masa lalu, Hari Valentine selalu diwarnai dengan razia polisi syariah dan larangan penjualan barang-barang yang terkait dengan perayaan Hari Kasih Sayang. Namun sejak tahun lalu, berbagai langkah tersebut dicabut.

Toko-toko menjual mawar merah dan buket bunga tanpa masalah. "Saya tidak mengira seperti ini," kata seorang penjual bunga sambil tertawa. "ini tidak seperti tahun-tahun lalu, orang-orang dengan nyaman membeli (bunga mawar merah)."

Sheikh Al-Ghamdi telah lama dikenal sebagai ulama yang berpandangan liberal. Pada 2009, dia mempublikasikan tulisan yang mempertanyakan legalitas segregasi gender dalam Islam.

Dia pun dipecat dari jabatannya, namun keputusan itu segera dicabut. Pada 2010, dia menyatakan bahwa menurutnya tidak ada yang salah bagi wanita untuk mengemudi. Al-Ghamdi pun mengundurkan diri tak lama kemudian.

Dia kembali memicu kontroversi pada 2014 saat menyatakan bahwa meski perempuan harus berpakaian sopan, tapi tak perlu menutup seluruh wajah. Al-Ghamdi pun tampil di televisi bersama istrinya, yang mengenakan abaya hitam, pakaian tradisional Arab Saudi beserta jilbab, tapi tanpa cadar, sehingga raut wajahnya terlihat.

CNN

Jumat, 16 Februari 2018

MANTAN SANTRINYA JADI PELAKU PENYERANGAN GEREJA, PONPES PAYAMAN PERKETAT SELEKSI

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Sirojul Mukhlasin Payaman II, Desa Krincing, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menyatakan akan memperketat seleksi penerimaan santri baru setelah salah satu alumnusnya menjadi pelaku penyerangan di Gereja Santa Lidwina, Sleman, Yogyakarta, Minggu (11/2/2018).

Abdul Hamid, salah satu pengasuh ponpes tersebut, menyatakan apa yang dilakukan Suliono, pelaku penyerangan Gereja Santa Lidwina, sama sekali tidak mencerminkan ajaran yang diajarkan di ponpes tersebut.

"Ke depan, akan kami ketatkan penerimaan santri. Pengawasan terhadap keseharian santri juga akan ditingkatkan. Selama ini kami tidak terpikir akan terjadi seperti ini karena ajaran pondok sangat bertentangan dengan kekerasan dan radikal," ujar Hamid, saat ditemui wartawan, Kamis (15/2/2018) sore.

Hamid mengatakan, ponpesnya terbuka dengan masyarakat, serta memegang teguh faham Ahlusunnah Wal Jamaah yang sejalan dengan ponpes Nahdlatul Ulama (NU) pada umumnya. Ponpesnya memiliki pandangan positif tentang Islam Rahmatan Lil Alamin.

"Ponpes tidak pernah ajarkan kekerasan dan hal-hal yang bersifat radikal, apalagi terorisme. Pondok kami memiliki pandangan positif tentang Islam Rahmatan Lil Alamin. Sejak berdiri 102 tahun lalu, pondok masih berpegang teguh dalam menganut, mengajarkan, dan menyebarkan faham Ahlusunnah Wal Jamaah, sejalan dengan pesantren NU lainnya," tutur Hamid.

Hamid menyatakan, lingkungan di dalam ponpes senantiasa mencerminkan kehidupan yang penuh kasih sayang. Hal itu terlihat dari keseharian para santri ketika di dalam ponpes maupun di luar ponpes. Hamid pun yakin bahwa Suliono telah mendapat pengaruh radikal dari luar ponpes.

"Ajaran dan suasana pondok tidak mendukung tumbuhnya paham kekerasan seperti ini. Dia (Suliono) dapatkan itu bukan dari pondok, tapi dari luar. Alumni dan orangtua juga sudah memahami itu. Yang melakukan kekerasan itu individu atau oknum, dia sendiri sudah bukan santri di Ponpes Sirojul Mukhlasin," tambahnya.

Selain akan memperketat penerimaan santri, pihaknya juga akan melakukan penataan di dalam ponpes supaya pengaruh buruk dari luar tidak sampai masuk dan memengaruhi santri yang masih menempuh pendidikan di ponpes tersebut.

"Pelajaran yang ada di ponpes selama ini tidak ada yang salah. Tinggal bagaimana caranya agar pengaruh dari luar tidak sampai memengaruhi santri," imbuh putra kedua KH Mukhlisun itu.

Suliono, pemuda asal Kabupaten Banyuwangi itu, sempat menimba ilmu di Ponpes Sirojul Mukhlasin Payaman II selama dua tahun, sejak tahun 2015-2017. Pada Juni 2017, Suliono melanjutkan pendidikannya ke Ponpes Sirojul Muhlasin Payaman I di Desa Payaman selama sekitar lima bulan.

Pada Desember 2017, Suliono dicoret sebagai santri di Ponpes Sirojul Muhlasin Payaman I lantaran kerap membolos dan tidak mematuhi peraturan ponpes.

"Sejauh laporan yang kami dapatkan, memang dia sempat berbicara pada teman-temannya. Tapi, pemikiran dan pembicaraan ini tidak cocok dengan teman-temannya sehingga akhirnya menjadi banyak penyendiri karena pemikirannya berlawanan ajaran ponpes," ungkap Hamid.

Setelah kejadian penyerangan di Gereja Lidwina, pihaknya mengimbau kepada semua wali murid dan masyarakat untuk menjaga kedamaian, keamanan, ketenangan, dan ketertiban, serta tidak terpancing isu-isu yang menyesatkan. Pihaknya mengutuk keras aksi kekerasan, apalagi terorisme hingga melukai orang lain.

KOMPAS