Sabtu, 05 Mei 2012

PEMBUNUH KELUARGA ATET DI PALEMBANG DUKUN PALSU

Image



Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...

Polisi berusaha membawa tersangka Asep (tanpa baju) dari kepungan warga yang hendak menghakimi saat akan dibawa ke Mapolresta Palembang kemarin. Polisi juga meringkus Sofyan Effendi alias Edi yang diduga turut serta dalam proses penggandaan uang bersama pelaku Asep hingga menewaskan Atet sekeluarga.

Aparat Unit Reserse Kriminal Polsekta IT I bersama anggota Unit Pidana Umum Satuan Reskrim Polresta Palembang pada pukul 11.00 WIB kemarin menangkap dua orang yang diduga pembunuh keluarga Bong Mukong alias Atet.

Otak pelaku pembunuhan adalah dukun palsu bernama Kgs Asep, 41,warga Jalan Puncak Sekuning,Lorong Swadaya,RT 57/13,Kelurahan Lorok Pakjo, Kecamatan IB I, Palembang. Pelaku ditangkap di belakang rumahnya saat sedang hendak makan siang. Selanjutnya, pada pukul 14.00 polisi menangkap seorang tersangka lagi, Sofyan Effendi alias Edi, 40, warga Jalan Cianjur,Kecamatan IT II Palembang.

Edi diduga turut serta dalam proses pembunuhan keluarga Atet. Kapolresta Palembang Kombes Pol Sabarudin Ginting, didampingi Kapolsekta IT I Kompol Dedy Adrianto, menyebut penangkapan pelaku berkat kejelian penyidik setelah mengorek informasi dari saksi kunci Louis dan salah seorang keluarga korban bernama Andi yang mengetahui adanya komunikasi dan pertemuan intensif antara Atet dan Asep dalam beberapa pekan terakhir.

“Titik terang mulai terungkap siapa pembunuh Atet dan keluarganya saat penyidik Polsekta IT I dan Unit Pidana Umum Satuan Reserse Kriminal berhasil membujuk nenek Louis berbicara kepada Louis di Rumah Sakit Pelabuhan Boom Baru,Palembang.Bermodalkan alat perekam tersembunyi, Kamis (3/5) dari malam hingga pagi, polisi merekam Louis berkomunikasi dengan neneknya.

Sampai akhirnya Louis berkata berulang kali bahwa dia melihat Asep di rumah waktu kejadian,” ungkap Ginting di tempat kejadian peristiwa (TKP) kemarin. Setelah mendapatkan nama Asep, penyidik mencari tahu siapa Asep dan apa hubungannya dengan keluarga korban Atet. ”Setelah kita cari tahu dari pihak keluarga korban, ternyata Asep mengaku dukun yang katanya bisa menggandakan uang, menarik benda pusaka, dan harta karun. Adapun yang mempekenalkan korban dengan Asep adalah keluarga korban sendiri, yaitu Andi,”tuturnya.

Mendapat informasi itu anggota Unit Reskrim Polsekta IT I bersama anggota Unit Pidum Satuan Reskrim Polresta kemarin langsung mengintai pelaku.”Pelaku ternyata di rumah. Saat ditangkap tersangka mengaku telah menghabisi nyawa korban Atet dan keluarganya di rumah korban di Jalan Pangeran Antasari,Lorong KIP, No 285 C,RT 06/02,Kelurahan 14 Ilir,”papar Ginting. Motif pembunuhan ini ternyata kekesalan Asep lantaran terus ditagih janji oleh istri korban, Acen, 35.

Rupanya Asep berjanji dapat menggandakan uang milik korban yang diterimanya sebesar Rp5 juta menjadi Rp1 miliar. ”(Pembunuhan dilakukan) akibat (pelaku) didesak terus oleh Acen dan diancam akan dilaporkan ke polisi karena telah mengambil uang Rp5 juta milik korban. Karena uang yang dijanjikan pelaku bisa menjadi Rp1 miliar tak kunjung terbukti, ”katanya.

Puncaknya, sebelum kejadian, Selasa (1/5) sekitar pukul 23.00,Asep menyatakan sanggup memenuhi janjinya kepada Atet dan Acen. ”Pelaku bilang, tunggulah saya datang ke rumah (rumah Atet).Kita akan melakukan ritual penggandaan uang,”ungkapnya. Setiba di rumah korban, kata Ginting, Asep berpurapura membaca mantra layaknya dukun sakti. Aksi ritual berlangsung di lantai tiga rumah korban. Rabu (2/5) sekitar pukul 02.00 pelaku mulai menjalankan skenario pembunuhan terhadap Atet sekeluarga.

”Pertama,Asep menyuruh Atet dan Acen turun terlebih dulu ke lantai satu.Kemudian pelaku memanggil Acen naik ke lantai tiga.Saat di lantai tiga, dalam hitungan detik Asep menghabisi nyawa Acen dengan menusukkan pisau ke tubuh korban,” bebernya. Setelah sukses membunuh Acen,Asep memanggil Atet ke lantai tiga dengan alasan melanjutkan ritual penggandaan uang.

”Atet sempat bertanya kepada Asep,‘mana istri saya?’ Asep menjawab istrinya sedang di kamar, menghitung uang bagian dari ritual.Tanpa rasa curiga Atet kemudian menuruti instruksi Asep agar tidur berbaring di lantai dengan mata tertutup kain. Saat itulah pelaku dengan sadis menusukkan linggis ke leher Atet hingga tewas,” beber Ginting.

Belum puas membunuh korban Atet dan Acen,Asep kembali menuju ke lantai dua untuk menghabisi nyawa ketiga anak korban: Sherly, Ranty, Louis. Saat turun di lantai dua pelaku Asep bertemu Louis yang hendak ke kamar mandi. Tanpa rasa kasihan Asep menghunuskan pisau ke tubuh korban hingga terjatuh di depan kamar mandi. ”Sherly yang melihat Louis diserang pelaku langsung memeluk badan Louis sambil berkata,adik saya sudah mati kamu bunuh.Asep yang mendengar itu langsung menusukkan kembali pisaunya dengan membabi buta ke tubuh bagian belakang dan depan Sherly di depan kamar mandi,”tutur Ginting.

Setelah menusuk Sherly dan Louis,Asep menuju kamar anak kedua korban, Ranty, yang saat itu sedang tertidur pulas. Lalu pelaku menusuk tubuh Ranty dengan sebilah pisau.Sehabis itu pelaku membakar kasur yang ditempati Ranty hingga tubuhnya hangus terbakar. ”Sebelum kabur lewat pintu belakang rumah korban, pelaku sempat membuang pisau dan linggis di belakang selokan rumah korban dan membuka selang kompor gas milik korban dengan tujuan agar terjadi ledakan besar sehingga TKP porak-poranda,” tuturnya.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya tersangka dijerat pasal berlapis, khususnya Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Be-rencana dengan hukuman seumur hidup atau hukuman mati. ”Tadi kami sudah melakukan pra-rekonstruksi di TKP dan pelaku mengakui semua perbuatannya. Keterlibatan tersangka satu lagi masih kami dalami,”ujar Ginting.

Membunuh Karena Kesal

Asep menghabisi nyawa Atet sekeluarga lantaran kesal ditagih terus oleh istri Acen terkait masalah penggandaan uang Rp5 juta menjadi Rp1 miliar. ”Jujur Pak, sebenarnya saya tidak bisa menggandakan uang, tapi terus dipaksa korban. Apalagi sudah diberi panjar Rp1 juta oleh Acen. Beberapa minggu sebelum kejadian terus dikasih tambah lagi uang Rp4 juta. Jadi totalnya Rp5 juta.Uang itu dikasih di rumah korban,” ungkap Asep di Mapolresta Palembang kemarin.

Seusai membunuh para korban Asep kembali ke rumah tanpa rasa bersalah. ”Saya baru tahu aksi saya bikin heboh karena besoknya membaca koran dan menonton televisi. Saya pikir semua sudah terjadi dan saya tetap di rumah melakukan aktivitas seperti biasa, mulai menarik becak sampai jual bambu gantungan baju,”ungkap bapak tiga anak ini tanpa raut wajah menyesal. Tersangka lain, Sofyan Efendi, mengetahui rencana Asep dalam menggandakan uang milik Atet.

”Memang saya diajak Asep melakukan aksi itu,tapi soal pembunuhan saya tidak tahu-menahu. Dari rencana menipu dengan menggandakan uang itu saya dapat bagian Rp1,5 juta. Uang itu dikasih secara bertahap di rumah Asep. Setahu saya Asep itu hanya bisa ngurut saja. Kalau menggandakan uang tidak bisa,” ungkap Sofyan di Mapolresta kemarin.

Penangkapan tersangka pembunuhan Atet sekeluarga direspons positif kakak tertua Atet,Poloi alias Ayen, 60.Ayen berharap pelaku dihukum mati. ”Kami puas pelaku tertangkap biar orang tahu bahwa keluarga saya dibunuh dia (Asep) dengan sadis,” ungkap Ayen kemarin.

Kemarin,sejak pukul 09.00, puluhan sanak saudara dan teman korban berdatangan ke ruang kremasi Rumah Sakit Charitas Palembang untuk memberikan doa terakhir.

SEPUTAR INDONESIA

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar