Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)
Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat bisa antiklimaks karena dipilih secara aklamasi. Ada dugaan, ini akibat ketakutan bahwa kader Anas Urbaningrum atau Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bakal menang lagi. Kompetisi terbuka pun bakal tamat.
Banyak kalangan menilai arus HMI begitu kuat dalam tubuh Demokrat. Barisan Anas Urbaningrum, atau Marzuki Alie diduga masih kuat di daerah-daerah. Sehingga ada kekhawatiran dalam kalangan tertentu terutama kubu Cikeas terhadap fenomena ini.
Desakan aklamasi dalam KLB Demokrat mengindikasikan adanya penggiringan suara kandidat tertentu menjadi ketua umum partai berlambang mercy itu. Gejala formalisme atau retradisionalisme politik?
Para analis menilai, formalisme dan retradisionalisme menggelayuti Demokrat dan Kubu Cikeas. “KLB cuma formalitas agar Demokrat tetap dalam genggaman Cikeas,” kata pengamat politik Ray Rangkuti.
Pemilihan Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat pada Kongres Luar Biasa (KLB) yang akan digelar akhir Maret nanti, ramai diperbincangkan publik karena mau dilakukan dengan secara aklamasi.
Calon Ketum akan ditentukan lebih dulu oleh Majelis Tinggi sebelum dipilih secara aklamasi pada KLB. Artinya dari SBY untuk Cikeas dan sebaliknya. Namanya juga politik dinasti atau klan yang tidak membuka diri bagi kompetisi yang sehat. Jadilah Demokrat partai keluarga Cikeas, dan bakal gigit jari pula para kader di luar Ciekas yang ingin saling berkompetisi atau bersaing.
Ani Yudhoyono dan KSAD Jenderal Pramono Edhie Wibowo disebut-sebut menjadi kandidat kuat sebagai calon Ketum Partai Demokrat dalam Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat akhir Maret 2013 ini. Peluang kakak adik itu, sangat besar. Apalagi, di sebagian daerah juga berharap pada dua orang ini.
Konon, beberapa daerah menginginkan agar istri Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengambil posisi Ketum yang ditinggalkan oleh Anas Urbaningrum pasca-dijadikan tersangka oleh KPK.
Ani Yudhoyono juga mantan wakil ketua umum dan dianggap layak memimpin Demokrat. Ani tidak bisa dianggap sepele, meski sebagian khalayak meremehkannya. Sangat mungkin Ani SBY juga muncul menjadi Cawapres pada 2014.
“Kalau jadi cawapres pada 2014, mungkin bisa saja meski itu berarti Cikeas menjilat ludahnya sendiri. Namun kalau jadi capres pada 2014, peluang Bu Ani untuk kalah sangat besar,” kata Frans Aba MA, pengamat politik lulusan Universitas Kebangsaan Malaysia.
Jika benar jalan aklamasi dipilih, tentu saja KLB Demokrat menjadi antiklimaks. Bukan tak mungkin, akan muncul bibit-bibit masalah baru yang akan muncul di tubuh partai itu.
INILAH


0 Komentar