Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...
Pernyataan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng yang tidak mengakui kepengurusan PSSI di bawah pimpinan Nurdin Halid langsung memberikan dampak bagi penggunaan kantor PSSI di Kompleks Stadion Utama Gelora Bung Karno, Pintu IX.
Dengan adanya pernyataan Andi, kantor yang berada pada gedung yang menjadi aset negara memang tidak lagi bisa digunakan. Kantor PSSI ini akan disegel. Direktur Hukum dan Peraturan PSSI Max Boboy memilih untuk menyatakan tidak tahu-menahu atas penyegelan yang akan dilakukan pada kantor PSSI itu. "Itu bukan wewenang saya," katanya saat ditemui setelah meninggalkan kantor PSSI, Selasa (29/3) sore.
Sebelumnya, Max sempat memboyong dokumen yang cukup banyak ke dalam mobil bermerek Honda Jazz warna perak miliknya. Ada orang lain yang membantu membawa tumpukan dokumen itu. Saat itu, dia berkata bahwa kantor kesekretariatan PSSI berpindah ke kantor PT Liga Indonesia di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. "Pindah ke BLI," katanya.
Namun setelah ditanya ulang, jawaban Max langsung berubah. "Saya tidak tahu," ujarnya kemudian. Max pun kembali ke gedung dan baru keluar lagi sekitar setengah jam kemudian. Max kemudian lebih memilih untuk mengubah pernyataannya terkait pemindahan kantor PSSI.
Setidaknya, pemindahan kantor PSSI dikuatkan dengan adanya ratusan kardus yang dihantarkan ke pintu masuk kantor dari Pintu VIII Gelora Bung Karno atau yang juga dikenal sebagai pintu merah. Pertama, kardus diantar dengan menggunakan sebuah motor. Kurang lebih ada sekitar 50 kardus yang dibawa pada bangku belakang motor dan kemudian dibawa masuk ke dalam kantor PSSI.
Berselang satu jam kemudian ada sebuah bajaj yang datang dengan jumlah kardus lebih besar. Kardus mengisi seluruh ruangan penumpang di belakang. Ada juga tumpukan kardus lainnya di atas bajaj. Jumlahnya mencapai 100 kardus.
Tono, supir bajaj itu, menyatakan kardus memang dipesan untuk dihantarkan ke kantor PSSI melalui pintu merah. "Dari tanah abang, saya tidak tahu untuk siapa. Saya hanya mengantar ini saja, tidak ada lagi setelah ini," katanya.
TEMPO
0 Komentar