Please comment & share this article, thanks!
Merapi sudah lama dikenal sebagai gunung api paling berbahaya di dunia. Yang lebih mengkhawatirkan letusan terbaru menjadi bukti siklus letusan Merapi kini makin pendek.
Associate Profesor Teknik Geofisika ITB, Teuku Abdullah Sanny mengatakan siklus meletusnya gunung Merapi awalnya rutin selama 4 tahunan. Hal itu bisa dilihat dari dokumen bangsa Belanda sejak pertama kali gunung api itu tercatat meletus pada 1554.
"Tapi siklus ini sekarang turun menjadi 3 tahunan," katanya saat dihubungi dari Jakarta.
Ia menambahkan geolog dan vulkanolog menilai Merapi termasuk gunung yang relatif muda, dibandingkan gunung sekitarnya seperti Merbabu, Tromoyo dan Ungaran. Gunung-gunung itu sudah tidak aktif dan disebut pyro clastic flows.
Sementara Geolog Senior Indonesia Awang Harun Satyana mengatakan perubahan siklus itu bisa saja terjadi. Sejak pertama kali meletus hingga kini Merapi memiliki cukup waktu.
Ia menambahkan dulu Merapi lebih bersifat asam, jadi jarang meletus. Namun selama berjalannya waktu, kandungan di Merapi bisa jadi lebih basa sehingga siklus pun berubah.
Yang dulunya 4 tahun bisa jadi sekarang menjadi 3 tahunan, katanya.
Sanny mengatakan magma Merapi sendiri bersifat basah dan asam. Namun berapa persentase komposisinya masih belum bisa diketahui, karena butuh penelitian lebih lanjut.
Namun Merapi bisa sangat berbahaya karena materi yang dikeluarkannya. Abu berwarna putih yang keluar dari Merapi disebut sebagai pyro clastic. Selain itu ada lahar yang merupakan campuran batu-batu sebesar kepalan tangan.
Produk-produk ini khas Merapi. Lahar mengalir berwarna merah dulu pernah muncul pada 1997 dan suhunya mencapai 600 dejarat celsius, jika manusia kena lahar ini maka langsung matang. Kandungan terbesar dalam letusan ini adalah besi, sulfur, dan magnesium, kata Sanny.
Sesuai ukuran para ahli, wedus gembel atau awan panas bisa mencapai hingga sekitar 13 km dari puncak. Pada 1996, pyro clastic flow itu bisa bergerak dengan kecepatan 110 km per jam.
Bayangnya saja kalau ada penduduk, mereka tidak akan sempat lari karena cepat sekali. Kecepatan itu sama denga kecepatan mobil yang masuk jalan tol, katanya
Associate Profesor Teknik Geofisika ITB, Teuku Abdullah Sanny mengatakan siklus meletusnya gunung Merapi awalnya rutin selama 4 tahunan. Hal itu bisa dilihat dari dokumen bangsa Belanda sejak pertama kali gunung api itu tercatat meletus pada 1554.
"Tapi siklus ini sekarang turun menjadi 3 tahunan," katanya saat dihubungi dari Jakarta.
Ia menambahkan geolog dan vulkanolog menilai Merapi termasuk gunung yang relatif muda, dibandingkan gunung sekitarnya seperti Merbabu, Tromoyo dan Ungaran. Gunung-gunung itu sudah tidak aktif dan disebut pyro clastic flows.
Sementara Geolog Senior Indonesia Awang Harun Satyana mengatakan perubahan siklus itu bisa saja terjadi. Sejak pertama kali meletus hingga kini Merapi memiliki cukup waktu.
Ia menambahkan dulu Merapi lebih bersifat asam, jadi jarang meletus. Namun selama berjalannya waktu, kandungan di Merapi bisa jadi lebih basa sehingga siklus pun berubah.
Yang dulunya 4 tahun bisa jadi sekarang menjadi 3 tahunan, katanya.
Sanny mengatakan magma Merapi sendiri bersifat basah dan asam. Namun berapa persentase komposisinya masih belum bisa diketahui, karena butuh penelitian lebih lanjut.
Namun Merapi bisa sangat berbahaya karena materi yang dikeluarkannya. Abu berwarna putih yang keluar dari Merapi disebut sebagai pyro clastic. Selain itu ada lahar yang merupakan campuran batu-batu sebesar kepalan tangan.
Produk-produk ini khas Merapi. Lahar mengalir berwarna merah dulu pernah muncul pada 1997 dan suhunya mencapai 600 dejarat celsius, jika manusia kena lahar ini maka langsung matang. Kandungan terbesar dalam letusan ini adalah besi, sulfur, dan magnesium, kata Sanny.
Sesuai ukuran para ahli, wedus gembel atau awan panas bisa mencapai hingga sekitar 13 km dari puncak. Pada 1996, pyro clastic flow itu bisa bergerak dengan kecepatan 110 km per jam.
Bayangnya saja kalau ada penduduk, mereka tidak akan sempat lari karena cepat sekali. Kecepatan itu sama denga kecepatan mobil yang masuk jalan tol, katanya



0 Komentar