Halaman

Rabu, 07 Juli 2010

TERAPI MUSIK UNTUK PENDERITA STROKE



Please comment & share this article, thanks!

Terapi musik yang dilakukan oleh ahli terapi musik dapat membantu meningkatkan gerakan-gerakan tubuh pasien stroke. Suatu tinjauan yang terangkum dalam Cochrane Systematic Review menyebutkan bahwa beberapa percobaan kecil telah menyimpulkan bahwa musik memiliki peran untuk menyembuhkan kecelakaan di bagian otak.

Setiap tahunnya lebih dari 20 juta orang menderita stroke. Banyak pasien menderita luka di otak yang mempengaruhi kemampuan bahasa dan kemampuan bergeraknya, yang akhirnya berakibat pada hilangnya kualitas hidup.

Terapi musik dilakukan melalui teknik-teknik yang dapat menstimulasi fungsi otak dan bertujuan untuk meningkatkan hasil bagi pasien. Satu teknik yang umum dilakukan adalah stimulasi pendengaran ritmik (rhythmic auditory stimulation/RAS), yang mengandalkan hubungan antara ritme dan gerakan. Musik dengan tempo yang khusus digunakan untuk menstimulasi gerakan tubuh pasien.

Tujuh penelitian kecil, yang seluruhnya melibatkan 184 orang, juga disimpulkan dalam tinjauan ini. Empat penelitian difokuskan pada pasien-pasien stroke, dengan tiga penelitian di antaranya menggunakan RAS sebagai teknik perawatan.

Terapi RAS meningkatkan kecepatan berjalan rata-rata 14 meter per menit bila dibandingkan dengan terapi gerakan yang standar, dan menolong pasien untuk dapat melakukan langkah kaki yang lebih panjang. Dalam satu percobaan, RAS juga meningkatkan gerakan tangan, yang dihitung dari perpanjangan sudut siku tangan.

“Tinjauan ini menunjukkan adanya hasil untuk efek terapi musik bagi pasien stroke,” kata kepala peneliti Joke Bradt dari Pusat Penelitian Seni dan Kualitas Hidup di Universitas Temple di Philadelphia, Amerika Serikat. “Karena kebanyakan penelitian menggunakan metode berbasis ritme, kami menilai bahwa ritme bisa menjadi faktor utama dalam pendekatan terapi musik untuk merawat penderita stroke."

Teknik terapi musik yang lain, seperti mendengarkan musik rekaman dan live juga diusahakan untuk mencoba meningkatkan kemampuan berbicara, meningkatkan perilaku pasien yang mengalami kecelakaan di otak. Dan meskipun hasil penelitian ini positif, namun buktinya terbatas. “Beberapa penelitian yang berhasil kami identifikasi kurang dari 20 partisipan,” kata Joke. “Diharapkan nanti ada jumlah sampel yang lebih besar yang dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya sehingga diperoleh rekomendasi untuk praktik klinis.”

TEMPO