INDONESIA MENANTANG HEGEMONI FIFA


Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...

Persepakbolaan Indonesia benar-benar dalam situasi gawat darurat. Atas nama pemerintah, Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Andi Alifian Mallarangeng dan Ketua Umum Komite Olahraga Nasional/Komite Olimpiade Indonesia (KON/KOI) Rita Subowo nekat menantang FIFA.

Sikap menantang Federasi Asosiasi Sepakbola Internasional (FIFA) itu jelas diungkapkan dalam salah satu butir sikap yang disampaikan Andi Mallarangeng dalam jumpa pers di Media Center Kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga di jalan Gerbang Pemuda, senayan, Jakarta, Senin (28/3/2011) sore.

Secara jelas, Andi menyatakan dukungannya terhadap pengambilalihan pelaksanaan kongres di Pekanbaru, Riau, Sabtu ((28/3/2011), oleh sekelompok yang mengklaim didukung 78 pemilik suara sah Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Padahal, FIFA memberikan mandat kepada pengurus resmi PSSI sebagai pelaksana kongres yang agenda utamanya ialah membentuk Komite Pemilihan dan Komite Banding itu.

Tugas utama kedua komite tersebut ialah menjaring dan menyaring bakal calon anggota Komite Eksekutif (Komeks) atau pengurus PSSI 2011-2015. Selanjutnya, Komite Pemilihan menyiapkan penyelenggaraan pemilihan pengurus baru PSSI yang terdiri ketua umum, wakil ketua umum, dan sembilan anggota itu.

Suasana kongres memanas. Kondisi di sekitar Hotel Premiere tempat penyelenggaraan kongres pun bagai negara dalam situasi darurat. Di luar polisi biasa, pasukan tentara berseragam pakaian dinas lapangan motif loreng dan anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri bertebaran di depan dan sekitar hotel. Bahkan, ada pula yang ditengarai masuk ke lokasi kongres di lantai II.

Situasi makin memanas dan kisruh. Terjadi pendobrakan pintu ruangan kongres oleh sekelompok orang yang mengklaim sebagai pemilik suara PSSI dengan didukung sekelompok pria cepak berbadan tegap. Melihat kondisi seperti itu, Frank Van Hattum dan Jai Singh Buttia dari FIFA beserta Sekretaris Jenderal AFC Alex Soosay dan pendampingnya Lazarus dievakuasi ke Bandar Udara Syarif Kasim II dan selanjutnya empat utusan itu terbang ke Singapura untuk kembali negara asal mereka.

Setelah berkonsultasi dengan utusan FIFA dan AFC dalam suatu rapat di bandara, PSSI memutuskan membatalkan kongres karena tidak kondusif untuk terselenggaranya suatu kongres yang demokratis dan fair. Namun, sekelompok orang yang mengklaim didukung 78 pemilik suara sah PSSI mengambilalih ruangan kongres dan menggelar kongres tanpa kehadiran pengurus PSSI maupun peninjau dari FIFA dan AFC.

Dalam keterangan pers yang didampingi Ketua umum KON/KOI Rita Szubowo itu, Menegpora Andi Alifian Mallarangeng mengatakan pihaknya menunggu sikap FIFA atas keputusan kongres PSSI di Pekanbaru yang diklaim diikuti 78 anggota PSSI pemilik hak suara itu. Kongres yang dibatalkan oleh pengurus PSSI itu menetapkan tujuh anggota Komite Pemilihan dan tiga anggota Komite Banding.

“Jika Keputusan Kongres tersebut disikapi secara positif oleh FIFA, maka Pemerintah bersama KONI/KOI mendukung segera dilaksanakannya kongres PSSI untuk memilih Ketua Umum, Wakil Ketua Umum, dan Anggota Executive Committee PSSI Periode 2011-2015 sesuai jadual yang telah ditetapkan oleh FIFA yaitu sebelum tanggal 30 April 2011,” kata.

“Apabila FIFA bersikap lain (tidak mengakui kongres tersebut), maka Pemerintah bersama KONI/KOI mendukung segera diselenggarakannya kongres PSSI untuk memilih Komite Pemilihan dan Komite Banding Pemilihan yang baru, dan selanjutnya melaksanakan kongres pemilihan Ketua Umum, Wakil Ketua Umum, dan Anggota Executive Committee PSSI Periode 2011-2015,” sambung Andi menantang.

Jika FIFA benar-benar tidak mengakui kongres tersebut dan Menegpora beserta KON/KOI tetap ngotot menggelar kongres, tentu saja langkah itu pun akan sia-sia karena juga tidak akan diakui FIFA. Dan, kongres lanjutan itu pun hanya menghabiskan anggaran sebagaimana penyelenggaraan Kongres Sepakbola Nasional pada akhir Maret 2010 di Malang, Jawa Timur.

INILAH

Posting Komentar

0 Komentar