DENSUS 88 BURU PRIA BERPIPI KEMPOT



Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...

Teror bom kembali melanda ibukota. Ledakan bom buku di kantor Komunitas Utan Kayu yang meremukkan telapak tangan Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Timur Kompol Dodi Rahmawan membuat marah Densus 88. Korps Burung Hantu mengerahkan semua anggotanya untuk memburu pelaku. Target penangkapan pertama adalah kurir pembawa buku.

"Sekarang ditangani Densus 88 Mabes Polri dan Polda Metro Jaya," ujar Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Boy Rafli Amar tadi malam. Penyidik memburu pria dengan identitas berpipi kempot dan kurus yang menjadi kurir pembawa buku ke jalan Utan Kayu 68 H, Jakarta Timur.


Mantan Kasubden Negosiasi Densus 88 Mabes Polri itu menjelaskan, prioritas pertama pengungkapan pengeboman itu adalah melacak kiriman paket buku. "Selain mendengar keterangan dari saksi mata, inisial tanda tangan, juga memeriksa sidik jari ," kata Boy. Penyidik Densus 88 juga memeriksa saksi mata yang mengetahui peristiwa peledakan di Polda Metro Jaya.


Tadi malam sekitar pukul 21, sebuah paket bom serupa dengan paket bom Utan kayu juga dikirimkan ke Kantor Badan Narkotika Nasional. Paket ditujukan kepada Kepala BNN Komjen Gories Mere. Paket di amplop coklat itu berhasil dijinakkan oleh tim Gegana Brimob Polda Metro Jaya.


Gories Mere selama ini dikenal sebagai pimpinan "informal" Satgas Bom dan komunitas petugas anti teror. Hingga pukul 22.30 Gories belum bisa dimintai komentar. Ponselnya di 081124XXX tidak aktif. kabareskrimKomjen Ito Sumardi membenarkan ada paket bom di BNN. "Berhasil dijinakkan," ujar Ito melalu pesan singkat semalam.


Secara terpisah, satu unit penyidik Densus 88 Mabes Polri tadi malam juga meluncur ke Ciomas, Bogor untuk mengecek alamat jalan Bahagia, Gang Panser, Ciomas, Bogor yang digunakan pengebom dalam suratnya. "Ada rumah kosong. Dikontrakkan. Kami sedang cari pemiliknya," kata sumber Jawa Pos semalam.


Bom buku itu dikirim oleh seorang kurir ke jalan Utan Kayu 68 H. Di tempat ini, ada beberapa kantor diantaranya Institut Studi Arus Informasi, Jaringan Islam Liberal, dan kantor berita radio KBR 68H sekitar pukul 10 pagi. Paket itu bebrbentuk buku berjudul "Mereka harus dibunuh karena dosa-dosa mereka terhadap Islam dan Kaum Muslimin" dengan penulis Sulaiman Azhar, Lc beralamat Jalan Bahagia, Gg Panser no 29. Ciomas, Bogor, Jawa Barat.


Salah satu saksi mata, Wakil Direktur ISAI, Ijo Nayu, menjelaskan paket tersebut telah ada di kantor tersebut sejak pukul 10.00 WIB pagi, berdasarkan keterangan yang ia peroleh dari" resepsionis, paket yang ditujukan kepada Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL), Ulil Abshar Abdalla. "Bersama paket tersebut, terdapat surat pengantar yang inti isinya adalah sebuah permintaan kepada Ulil untuk memberikan sebuah kata pengantar untuk bukunya yang akan terbit," ungkapnya.


Penerima buku pertama kali, Anisa Wulandari, 20, seorang pria dengan perawakan kurus. "Dengan pipi kempot tanpa jerawat. Pria tersebut mengenakan topi gelap dan jaket hitam, dengan tinggi sekitar 160 sentimeter," katanya menjelaskan.


Dia mengaku, tidak menaruh curiga terhadap pria tersebut. Bahkan, usai menerima paket tersebut, Anisa hanya meminta pria yang belum diketahui identitasnya itu tandatangan. Kemudian, oleh Anisa paket yang awalnya diduga berisi buku tersebut dengan lebar 20 sentimeter, panjang 30 sentimeter dengan tinggi sekitar 10 sentimeter.


Salah seorang staf ISAI Saidiman memperhatikan paket tersebut lalu melihat ada dua buah kawat yang dilengkapi dengan sebuah baterai. "Saya curiga, lalu telpon polisi," kata Saidiman. Tidak sampai satu jam, datang sejumlah anggota Polsek Matraman dan Polres Jakarta Timur langsung membuat garis kuning untuk mengamankan paket tersebut. Para pegawai yang ada di kantor tersebut segera diamankan ke luar gedung. "Polisi melakukan pemeriksaan terhadap paket tersebut," ungkapnya.


Ditunggu sekitar dua jam, Gegana tidak segera datang. Setelah menelpon rekannya yang bertugas di Gegana, Kasat Reskrim Polres Jaktim, Kompol Dodi Rahmawan, kemudian memegang paket tersebut. "Dia meminta anggota untuk mencari selang dan mengguyur paket dengan air," kata Bripka Wahyu, salah seorang polisi yang bertugas di tempat kejadian.


Tanpa pelindung, Dodi kemudian membuka paket tersebut. Tepat saat perwira asal Jember, jawa Timur itu membuka baterai di tengah buku, bom meledak.Telapak kiri Dodi remuk. Yang luka lainnya Komisaris Dodi Rahmawan, Ajun Komisaris Karliman, dan Inspektur Dua Bara. Juga satpam Komunitas Utan Kayu Mulyana. Mereka langsung dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.


Dodi masih sadar saat hendak dibawa ke ruang operasi. "Doa ya Pak, maaf ya Pak," kata Dodi pada Kabidhumas Polda Metro Kombes Baharudin Djafar di selsar rumah sakit. Tangan kiri Dodi dibalut perban dan diinfus. Dodi adalah lulusan Akpol tahun 1995 dan alumni SMA Negeri 1 Jember tahun 1991. Dodi menikah dengan Silvana Said pada 24 Oktober 1998.


Kapolda Metro Jaya Irjen Sutarman yang meninjau TKP menyesalkan kejadian itu. "Seharusnya menunggu Gegana. Ini satu bentuk kelalaian yang sangat menyedihakan kita," kata mantan kapolda Jatim ini. Sutarman menyebut inisiatif petugas sebenarnya sudah baik. Diantaranya dengan menjauhkan paket dari kantor dan orang. Lalu memasang police line. "namun, tindakan mengurai tanpa pelindung itu tidak boleh dan salah," katanya.


Tapi, mengapa Gegana tak kunjung datang - Sutarman berdalih itu karena kemacetan lalu lintas. "Teman-teman tahu, itu jam sibuk sekali," katanya. Pimpinan tim Gegana Polda Kasat Brimob Polda Metro Jaya Kombes Imam Margono mengakui, jika anak buahnya sempat menerima telepon dari Dodi untuk meminta arahan menjinakkan bom. Namun, personel Gegana menolak permintaan Dodi.


"Tidak ada arahan dari Gegana untuk menjinakkan bom. Apalagi disiram dengan air, itu tindakan bodoh," katanya. Menurut Imam, Dodi mengira jika paket itu merupakan petasan. Kendati demikian, dia menegaskan, Dodi seharusnya tidak boleh menganggap remeh akan hal itu. "Sebelum meledak, dia (Dodi) sempat menelpon minta arahan. Tapi Gegana tidak mau, karena itu tidak boleh dan sangat teknis. Hanya Gegana yang boleh membuka barang mencurigakan," katanya.


JPNN

Posting Komentar

0 Komentar