Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...
Krak!
Kerak bumi di lepas pantai Sendai tiba-tiba koyak hebat di kedalaman 24,4 kilometer. Laut di atasnya ditelan bumi--seperti air di mangkuk yang dasarnya tiba-tiba bocor. Permukaan laut menjadi cekung, lalu terisi air kembali, kemudian bergolak. Tsunami telah lahir dan mulai menebar bencana ke sekitarnya dengan kecepatan
sekitar 500 kilometer per jam. Waktu itu belum lewat pukul tiga sore.
Kota Sendai, 130 kilometer dari pusat gempa. Mark Avancena, warga Inggris, diterjang perasaan sunyi yang aneh: perabotan rumah terlempar ke udara, yang digantung bergoyang liar, tulang rumah berderak-derak. Tapi, "Dunia seolah berhenti bergerak," ujarnya.
Ketika pukul tiga sore baru lewat, brak, lidah air melabrak pintu dan jendela rumah. "Kami saling bertatapan, lalu mulai saling mengucapkan selamat tinggal," ujar Avancena. "Kami pikir kami tidak akan bisa bersama lagi."
Avancena dan keluarganya selamat. Tapi ia membayarnya dengan mahal: menjadi saksi hidup salah satu tsunami terhebat di Jepang. Seusai tsunami lewat, ia melihat ratusan jenazah membujur dimainkan ombak di pantai Sendai yang dulu indah.
Tercatat, hingga pukul 10 malam, jumlah korban versi resmi baru 88 orang. Namun polisi di Kota Sendai bersaksi bahwa di pantainya ada 200-300 jenazah. Kota itu dan Tohoku merupakan kawasan paling dekat dengan pusat gempa.
Di Kota Kodaria di sebelah barat Tokyo, Miyako Yoshida sempat tak peduli saat merasakan getaran gempa terbesar sejak 1900 itu. Soalnya, pada mulanya rasa lindu itu tak asing. Namun getaran itu makin lama kian kuat. Lebih dari satu menit ia merasakan getaran tak biasa itu. Dari televisi dan radio, ia mendapat kabar gempa itu mengakibatkan tsunami.
Beruntung Miyako tinggal di Kota Kodaira, yang jauh dari pusat gempa. Tapi nasib Mukti Ali, dosen Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin yang sedang melanjutkan studi di Kota Sendai, tak sebaik Miyako. Ia terpaksa mengungsi karena gempa telah merobohkan apartemennya.
Ardy Arsyad, yang juga sedang melanjutkan studi di Kota Fukuoka, Jepang, kesulitan menghubungi rekan satu almamaternya itu. "Kabar terakhir, jalur telepon terputus untuk daerah Sendai dan Tohoku," ujarnya kemarin.
TEMPO
0 Komentar