Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...
Gunung Bromo hari ini, Jum’at (4/3), dilaporkan kembali mengeluarkan suara dentuman disertai lontaran material pijar dari dalam kawah.
Kepala Bidang Gempa Bumi dan Gerakan Tanah, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Gede Suantika, menjelaskan, berdasarkan laporan yang diterimanya dari Pos Pengamatan Gunung Bromo di Dusun Cemoro Lawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, gunung dengan tinggi 2.329 meter di atas permukaan laut itu tujuh kali mengeluarkan letusan dengan suara dentuman.
Tujuh letusan tersebut dengan amplitudo maksimum 36 milimeter hingga 40 milimeter dan lama letusan 15 detik hingga 60 detik. “Gempa tremor masih terus terjadi dengan amplitudo 5 hingga 35 milimeter,” katanya.
Akibat letusan, Pos Pengamatan Gunung Bromo terkena hujan abu. Kendati demikian, kata Gede, status Gunung Bromo tetap pada level siaga dengan rekomendasi radius dua kilometer dari pusat letusan tetap steril dari aktivitas manusia.
Sementara itu, berdasarkan pengamatan visual menunjukkan cuaca di Gunung Bromo dan sekitarnya terang sehingga profil gunung tampak jelas. “Teramati kepulan asap yang masih berwarna kelabu tebal kecoklatan dengan tekanan sedang hingga kuat setinggi 400 meter hingga 800 meter di atas bibir kawah, dan condong ke arah timur dan timur Laut,” ujar Suantika pula.
Dari Pos Pengamatan Gunung Bromo, suara bergemuruh disertai dentuman sedang hingga keras cukuip jelas terdengar. “Terjadi juga lontaran material pijar setinggi lebih kurang 300 meter dan sejauh 500 meter,” papar Suantika.
Suantika mengatakan, periode letusan Gunung Bromo dalam tiga bulan terakhir ini cukup besar jika dibandingkan periode letusan-letusan sebelumnya.
Gunung Bromo sebelumnya pernah meletus tahun 2000 dan tahun 2004. Namun saat itu, erupsi hanya berlangsung lebih kurang satu bulan. “Dilihat dari jumlah material vulkanik yang dikeluarkan, periode letusan kali ini lebih besar,” urai Suantika.
Gunung Bromo mulai mengeluarkan letusan sejak 23 November 2010 lalu. PVMBG saat itu sampai dua kali menaikkan status aktifitasnya dari waspada menjadi siaga pada pagi hari dan dari siaga menjadi awas pada sore hari.
Selama tiga bulan terakhir ini Gunung Bromo terus bererupsi, dan telah mengeluarkan material vulkanik dalam jumlah besar. Di antaranya abu, pasir, hingga bom vulkanik.
Penyebaran abu vulkanik Bromo bahkan sudah dirasakan hingga bagian timur Jawa Timur, seperti Situbondo dan Banyuwangi. Bahkan sebagian pulau Madura juga sempat merasakan hujan abu Bromo.
Adapun material vulkanik berupa pasir hanya dirasakan oleh warga Kabupaten Probolinggo di Kecamatan Sukapura serta Kecamatan Sumber. Sedangkan bom vulkanik hanya terlontar di kaldera atau lautan pasir Gunung Bromo.
Bom vulkanik berupa bongkahan material vulkanik padat sebesar kepalan tangan hingga kepala orang dewasa terlontar tidak sampai melebihi dua kilometer dari pusat letusan.
Lontaran bom vulkanik paling jauh pada awal Januari lalu dengan jarak 1.400 meter dari pusat letusan. Karena itu, PVMBG saat ini tetap mempertahankan status Gunung Bromo pada level siaga dengan rekomendasi dua kilometer dari pusat letusan harus steril dari aktivitas manusia.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Tempo, letusan Gunung Bromo belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.
TEMPO
0 Komentar