Halaman

Rabu, 28 Februari 2018

TANGKAP KELOMPOK THE FAMILY MCA, KABARESKRIM SEBUT INDONESIA DARURAT UJARAN KEBENCIAN



Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Kabareskrim Komjen Ari Dono Sukmanto menyebut bahwa Indonesia sedang darurat atau kejadian luar biasa (KLB) dalam kasus ujaran kebencian. Apalagi adanya penangkapan kelompok pelaku ujaran kebencian Muslim Cyber Army (MCA) yang tergabung dalam grup Whatsapp dengan nama "The Family MCA".

"Pengungkapan atas penangkapan dari pelaku ujaran kebencian kelompok MCA yang tergabung dalam grup ‘TFMCA’ membuktikan. Ujaran kebencian merupakan kejadian luar biasa (KLB-red) di Indonesia," kata Ari kepada awak media, Jakarta, Selasa (27/2/2018).

Menurut Ari, berdasarkan hasil penyelidikan jajarannya, kelompok itu memang diduga kerap menyebarkan isu provokatif di media sosial. Mulai dari isu kebangkitan PKI, penculikan ulama, dan pencemaran nama baik presiden hingga tokoh publik lainnya.

"Jadi, masyarakat kemudian jangan salah persepsi. Bahkan membuat analisa yang tidak-tidak. Tolong masyarakat menggarisbawahi ini dengan tegas, penangkapan itu murni untuk menegakkan hukum karena tindak pidana ujaran kebencian," papar Ari.

Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri dan Direktorat Keamanan Khusus Badan Intelijen Keamanan sebelumnya menangkap kelompok inti pelaku ujaran kebencian Muslim Cyber Army (MCA) yang tergabung dalam grup Whatsapp dengan nama "The Family MCA".

Penangkapan dilakukan secara serentak di lima kota mulai dari Jakarta, Bandung, Bali, Pangkal Pinang dan Palu. Tersangka yang ditangkap berjumlah 5 orang yaitu ML (40), RSD (35), RS (39),Yus (23) dan RC di Palu.

Selain ujaran kebencian, sindikat ini ditenggarai juga mengirimkan virus kepada kelompok atau orang yang dianggap musuh. Virus ini biasanya merusak perangkat elektronik penerima.

Untuk itu, aparat menangkap para tersangka dengan dugaan telah melakukan tindak pidana sengaja menunjukkan kebencian atau rasa benci kepada orang lain berdasarkan diskriminasi SARA dan atau dengan sengaja dan tanpa hak menyuruh melakukan tindakan yang menyebabkan terganggunya sistem elektronik dan atau membuat sistem elekteonik tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Atas perbuatannya keempat pelaku disangka melanggar Pasal 45A ayat (2) Jo pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan/atau pasal Jo pasal 4 huruf b angka 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan/atau pasal 33 UU ITE.

OKEZONE

SALAH SATU ANGGOTA THE FAMILY MCA YANG DITANGKAP PNS PANGKAL PINANG

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Polisi menangkap enam orang pelaku penyebaran berita bohong (hoax) dan ujaran kebencian (hate speech) yang tergabung dalam kelompok Muslim Cyber Army. Salah satu pelaku yang ditangkap berprofesi sebagai PNS.

"Pada pukul 09.15 WIB telah dilaksanakan penangkapan di Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung. Berinisial RSD (34), pekerjaan PNS," kata Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Fadil Imran lewat keterangan tertulisnya, Selasa (27/2/2018).

RSD ditangkap pada Senin (26/2) kemarin. Berdasarkan data yang dihimpun, pria ini diketahui bekerja sebagai pegawai Puskesmas Selindung.


Darin tangan pelaku disita barang bukti berupa sebuah laptop merek Dell, sebuah flashdisc merek Sundisk, sebuah flashdisc Thosiba warna putih 8 GB, sebuah HP Asus Zenfone, sebuah HP Samsung J Prime, Sebuah CD GT Pro, dan sebuah iPad.

Selain RSD, pelaku lainnya yakni ML (39) seorang karyawan yang ditangkap di Jakarta, RS (38) seorang karyawan yang ditangkap di Bali, RC yang ditangkap di Palu, dan Yus yang ditangkap di Sumedang. Sementara itu, pelaku lain yang ditangkap di Yogyakarta masih didata di Bareskrim.

Keenam pelaku ditangkap Direktorat Tindak Pidana Siber Polri bersama Direktorat Keamanan Khusus Badan Intelejen Khusus (Dit Kamsus BIK). Polisi menyebut mereka punya peran penting di grup WhatsApp 'The Family MCA'.

"Anggota MCA ini kan ada ratusan ribu. Tapi kita tangkap yang biangnya saja," ucap Kasubdit I Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes Irwan Anwar saat dikonfirmasi terpisah.

Mereka dijerat pasal 45A ayat (2) Jo pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan/atau pasal Jo pasal 4 huruf b angka 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan/atau pasal 33 UU ITE.

DETIK

SEBAR HOAX MUAZIN DIBUNUH, DOSEN ASAL YOGYA DITANGKAP POLDA JABAR

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jawa Barat (Jabar) menangkap Tara Arsih Wijayani (40), warga Dusun Krajan, RT 04/02, Kelurahan/Desa Tirtomartini, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Jawa Tengah.

Tara Arsih ditangkap karena diduga menyebaran hoax (kabar bohong) di media sosial tentang kabar muazin di Majalengka dibunuh oleh orang gila pada pertengahan Februari 2018 lalu.

Dirreskrimum Polda Jabar Kombes Pol Umar Surya Fana mengatakan, tersangka Tara Arsih yang merupakan dosen salah satu universitas swasta di Yogyakarta ini, ditangkap pada Senin 26 Februari 2018.

"Penangkapan terhadap Tara ini dilakukan sepekan setelah peristiwa pembunuhan di Cikijing. Saat ini kami masih dalami motif tersangka Tara menyebarkan hoax tersebut," kata Umar di Mapolda Jabar, Selasa (27/2/2018).

Kepada penyidik, Tara Arsih mengaku mengajar di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. "Pengakuan ini masih kami dalami," ujar dia.

Berdasarkan hasil penyelidikan, tutur Umar, Tara merupakan anggota jaringan penyebar hoax, Muslim Cyber Army (MCA). Hasil prenyelidikan itu dikuatkan dengan barang bukti yang disita petugas. "Unggahan tersangka membuat resah, menimbulkan keresahan di masyarakat," katanya.

Dari tangan tersangka, penyidik mengamankan barang bukti berupa satu unit tablet merek Lenovo tipe 9500 dengan Nomor Imei: 1.86336.3028411138 dengan ciri-ciri warna hitam, corak stiker, dan satu email dengan nama arastara@hotmail.com yang disimpan ke dalam bentuk CD berikut satu bundle print out.

Diketahui, sejak Sabtu 17 Februari 2018 sekitar pukul 12.00 WIB, terjadi dugaan tindak pidana penyebaran kabar bohong alias hoax yang menyesatkan di meda media sosial Facebook oleh orang dengan nama akun TARA DEV SAMS yang memiliki nama asli Tara Arsih Wijayani.

Berikut isi postingannya di Facebook:

SIAPA KEMAREN YANG KEPANASAN SUARA ADZAN ?? dan seorang muadzin jadi korban (yang katanya) orang gila.

Innalillahi wa innailahi Rojiun, nama beliau bpk Bahroen seorang muadzin di desa sindang kec. Cikijing. Majalengka Jawa Barat.
Modus perampokan disertai pembunuhan…
Mungkin kah orang gila lagi pelakunya?

KEBENARAN AKAN MENEMUKAN JALANNYA DAN ITULAH KEPEDIHAN BAGI PARA PENCIPTA & PEMAIN SANDIWARA INI.. ALLAH MAHA MEMBALAS...aamiin.

SINDONEWS

KELOMPOK THE FAMILY MCA MILIKI TIM AKADEMI TEMPUR DAN SNIPER

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Polri menyatakan bahwa kelompok pelaku ujaran kebencian Muslim Cyber Army (MCA) yang tergabung dalam grup Whatsapp dengan nama "The Family MCA" memiliki tim akademi tempur dan Sniper dalam kelompoknya.

Diduga akademi tempur dan Sniper itu tim yang melempar isu provokatif di media sosial, antara lain, kebangkitan PKI, penculikan Ulama, dan penyerangan terhadap nama baik Presiden, pemerintah, serta tokoh-tokoh tertentu.

"Memang mereka disana kan mereka punya Siber Troop bahkan punya akademi tempur CMA, punya tim Sniper," ujar Kasubdit I Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes Irwan Anwar, saat dikonfirmasi, Jakarta, Selasa (27/2/2018).

Irwan menyebut, kelompok MCA ini memiliki kemiripan seperti sindikat penyebar Hoax bernuansa SARA di media sosial (Medsos) Saracen. Namun, perbedaannya adalah MCA ini tidak terstruktur.

"Kalau di Saracen kan terstruktur organisasinya, kalau ini tidak ada struktur organisasinya, tapi mereka jelas berkelompok," tutur dia.

Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri dan Direktorat Keamanan Khusus Badan Intelijen Keamanan sebelumnya menangkap kelompok inti pelaku ujaran kebencian Muslim Cyber Army (MCA) yang tergabung dalam grup Whatsapp dengan nama "The Family MCA".

Penangkapan dilakukan secara serentak di lima kota mulai dari Jakarta, Bandung, Bali, Pangkal Pinang dan Palu. Tersangka yang ditangkap berjumlah 5 orang yaitu ML (40), RSD (35), RS (39),Yus (23) dan RC di Palu.

Selain ujaran kebencian, sindikat ini ditenggarai juga mengirimkan virus kepada kelompok atau orang yang dianggap musuh. Virus ini biasanya merusak perangkat elektronik penerima.

Untuk itu, aparat menangkap para tersangka dengan dugaan telah melakukan tindak pidana sengaja menunjukkan kebencian atau rasa benci kepada orang lain berdasarkan diskriminasi SARA dan atau dengan sengaja dan tanpa hak menyuruh melakukan tindakan yang menyebabkan terganggunya sistem elektronik dan atau membuat sistem elekteonik tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Atas perbuatannya keempat pelaku disangka melanggar Pasal 45A ayat (2) Jo pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan/atau pasal Jo pasal 4 huruf b angka 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan/atau pasal 33 UU ITE.

OKEZONE

NETIZEN BONGKAR AKUN TERAFILIASI THE FAMILY MCA SINDIKAT PENYEBAR UJARAN KEBENCIAN



Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)
 
Sindikat penyebar kebencian, sara, hoaks, dan isu-isu provokatif di media sosial, The Family MCA berhasil diringkus oleh jajaran Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, bersama dengan Direktorat Keamanan Khusus Badan Intelijen Keamanan.

Pantauan TribunWow.com, isu-isu yang biasa mereka sebarkan contohnya kembangkitan PKI, penculikan ulama, pencemaran nama baik, hingga menyebarkan virus pada individu tertentu.

Virus ini kemudian dapat merusak perangkat elektornik orang yang disasar.

//

Terkait hal ini, Dede Budhyarto melalui akun Twitternya@kangdede78 turut angkat bicara pada Selasa (27/2/2018).

Menurut Kang Dede, kelompok tersebut mengatasnamakan agama, namun nyatanya justru menyoroti politik. //

Dede juga menyebut jika kelompok ini ada yang mendanai.

@kangdede78: Kelompok MCA ini bukan hanya komunitas Media Social yg mengatasnamakan Agama, tapi komunitas jualan Politik yg terstruktur, ada komandannya, ada yg mendanai.

Pada postingannya selanjutnya, Dede mengungkapkan jika dari 4 tersangka yang berhasil ditangkap, salah satunya merupakan seorang PNS.

Keempat tersangka yang ditangkap adalah ML di Tanjung Priok, RSD di Pangkal Pinang, RS di Bali, dan Yus di Sumedang.

Informasi terbaru, ada dua lagi tersangka baru saja dibekuk. Satu orang yang ditangkap dari Palu baru saja tiba di Bareskrim dan tengah diperiksa petugas.

Kasubdit Siber Bareskrim Polri Kombes Irwan Anwar mengatakan selain pelaku yang ditangkap di Palu, ada satu pelaku lain yang ditangkap di Yogyakarta. Saat ini keduanya tengah didata petugas.

"Tersangka baru sampai, yang di Palu dan Jogja baru nyampe," ucap Irwan saat dikonfirmasi seperti dilansir detik.com.

Keenam pelaku tergabung dalam sebuah grup aplikasi pesan instan yakni WhatsApp Group 'The Family MCA'. Mereka ditangkap pada Senin (26/2).

Kang Dede juga membeberkan grup-grup aplikasi WhatsApp yang diikuti oleh para tersangka.

Diantaranya:

1. Akademi Tempur MCA

2. Pojok MCA

3. The United MCA

4. The Legend MCA

5. Muslim Coming

6. MCA News Legend

7. Special Force MCA

8. Srikandi Muslim Cyber

9. Muslim Sniper.

Menurutnya, grup WA tersebut beranggotakan sekitar 500 orang.

@kangdede78: 1 Group WA beranggotakan 500 orng, klo tertangkap semua, full penjara, atau dimasukan di sel khusus yah, "Lapas MCA".

Terkait penangkapan ini, Kang Dede kemudian mengatakan agar partai-partai yang memakai jasanya untuk tidak panik.

@kangdede78: Partai yg pake jasa MCA ndak usah panik getohhh...santay aja bro....ganti nomor bukan solusi, data udah kesedot, siap2 tidur di sel.

Pasca penangkapan ini, grup-grup yang terafiliasi The Family MCA berubah nama.

Srikandi Muslim Cyber berubah nama aku facebooknya menjadi Indonesia Bangkit.

Lalu The United MCA mengubah nama akun facebook-nya menjadi Medsod.

BANGKAPOS

KATA MOELDOKO SOAL PENANGKAPAN KELOMPOK FAMILY MCA



Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko ikut mengomentari penangkapan kelompok yang diduga menyebar kabar bohong tentang kebangkitan PKI dan penyerangan ulama, Family Muslim Cyber Army atau Family MCA. Menurut Moeldoko penangkapan kelompok penyebar berita provokatif saat ini sangat mudah dilakukan. Apalagi dengan penguatan Badan Siber dan Sandi Negara.

“Jadi, teknologi bisa sangat memungkinkan untuk tracking (pelacakan), siapa berbuat dan apa isinya? Itu sangat mudah,” ucap Moeldoko di Kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Selasa 27 Februari.

Pemerintah membentuk BSSN tersebut sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 53 tahun 2017. Di mana BSSN itu merupakan lembaga pemerintah non kementerian yang berada di bawah Kepresidenan.

Menurut Moeldoko, operasional BSSN melalui menteri yang menyelenggarakan koordinasi, sinkronisasi, dan pengendalian penyelenggaraan pemerintahan di bidang politik, hukum, dan keamanan. “Kita sudah membangun, apalagi dengan penguatan BSSN yang kapasitasnya sudah ditingkatkan,” ucap Moeldoko.

BSSN sendiri menjadi penyelenggara dan pembina tunggal persandian negara dalam menjamin keamanan informasi berklasifikasi milik pemerintah atau negara.

BSSN dibentuk dilatarbelakangi oleh penanganan permasalahan di ranah siber di Indonesia yang belum terintegrasi. Sehingga tata kelolanya dianggap bersifat parsial.

Direktorat Tindak Pidana Siber Polri bersama Direktorat Keamanan Khusus BIK menangkap empat anggota kelompok inti MCA yang tergabung dalam grup aplikasi Whatsapp bernama The Family MCA. Mereka ditangkap lantaran diduga kerap menyebarkan ujaran kebencian dan hoaks, seperti isu kebangkitan PKI, penculikan ulama, dan penyerangan terhadap nama baik presiden, pemerintah, serta tokoh-tokoh tertentu.

Para pelaku tersebut ialah Muhammad Luth, 40 tahun, Rizki Surya Dharma, 35 tahun, Ramdani Saputra, 39 tahun, dan Yuspiadin, 24 tahun. Mereka disangka dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

TEMPO

Selasa, 27 Februari 2018

MCA TERBONGKAR, KABARESKRIM POLRI: HENTIKAN SEMUA KEGILAAN



Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Bareskrim Polri berhasil membongkar keberadaan kelompok penikmat media sosial Muslim Cyber Army (MCA).

Menurut Kabareskrim Polri Komjen Ari Dono Sukmanto, kelompok MCA ini sering menebar ujaran kebencian dan penyebar hoax. Bahkan, Ari DOno mengklaim gara-gara kabar bohong yang disebarkan MCA, banyak warga yang termakan isu tak benar tersebut.

“Polri mengingatkan, hentikan menyebarkan hoaks, hentikan semua kegilaan yang menggaduhkan ini. Tapi jika tidak, Polri siap memberangus pemberontak seperti ini,” kata Ari, Selasa (27/2).

Menurut dia, pengungkapan ini membuktikan ujaran kebencian merupakan kejadian luar biasa. Terlebih bagi bangsa Indonesia yang kebanyakan masyarakatnya ikut-ikutan menyebarkan.

Ari pun mengakui, kelompok MCA sangat aktif dalam menyebarkan hoaks seperti isu kebangkitan PKI, penculikan ulama dan penghinaan presiden. Pria kelahiran Bogor berusia 56 tahun ini menambahkan, ujaran kebencian itu juga sudah dilarang oleh Persatuan Bangsa-bangsa (PBB).

“Hal itu ditandai pada 20 Maret 2017 lalu dalam International Day for the Elimination of Racial Discrimination. Isinya penegakan perlawanan secara bersama di seluruh dunia atas ujaran kebencian,” urai dia.

Sebelumnya Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri telah menangkap secara serentak empat penyebar hoaks di empat kota berbeda. Mereka adalah ML, RSD, RS dan YUS.

Atas ulahnya, pelaku dikenakan Pasal 45 A ayat (2) juncto Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan atau Pasal 4 huruf b angka 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan atau pasal 33 UU ITE.

FAJAR

POLISI BEKUK PENTOLAN GRUP MCA YANG DIDUGA KERAP SEBAR HOAKS



Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Polri menangkap empat orang pengurus kelompok yang diduga penyebar hoaks dan ujaran kebencian.

Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menangkap ML, RS, Yus dan RSD. Mereka diduga bagian dari pengurus kelompok penyebar hoaks dan ujaran kebencian bernama MCA.

Keempat orang ini bergabung dalam grup aplikasi Whatsapp bernama ‘The Family MCA’. Nama MCA juga digunakan untuk beberapa akun Twitter, tapi masih belum diketahui apakah keempat orang ini juga menjadi pengurus akun tersebut. Salah satu dari akun yang memakai nama MCA memiliki pengikut hingga 15,9 ribu akun.

Petugas dikerahkan secara serentak untuk menangkap keempatnya di empat kota di Indonesia. Pelaku ML ditangkap sekitar pukul 06.00 di daerah Sunter, Jakarta Utara. Sedangkan RSD ditangkap sekitar pukul 09.15 di daerah Pangkal Pidang, Kepulauan Bangka Belitung.

Pada pukul 12.20, penyidik juga melakukan penangkapan di Jembrana, Bali terhadap RS. Sedangkan pelaku Yus ditangkap di daerah Bandung, Jawa Barat.

“Berdasar hasil penyelidikan, grup ini sering melempar isu yang provokatif di media sosial seperti isu kebangkitan PKI, penculikan ulama, dan penyerangan terhadap nama baik presiden, pemerintah, serta tokoh-tokoh tertentu,” tegas Direktur Cybercrime Bareskrim, Brigjen Muhammad Fadil Imran melalui keterangan tertulis hari Selasa (27/2/2018).

Fadil juga menegaskan, kelompok ini menyebarkan virus yang dapat merusak perangkat elektronik bagi penerima.

Akibat perbuatannya, keempat pelaku dijadikan tersangka dengan Pasal 45A ayat (2) juncto Pasal 28 ayat (2) Undang-undang nomor 19 tahun 2016 tentang ITE dan/atau Pasal 4 huruf b angka 1 UU Nomor 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

“Kami masih mendalami pelaku lain dari grup-grup yang diikuti oleh para tersangka,” terang Fadil.

Bareskrim Polri sudah menangkap sekitar 19 orang pelaku penyebar ujaran kebencian dan hoaks sepanjang 2018. Kasubdit I Tindak Pidana Siber Bareskrim Mabes Polri menyatakan, beberapa pelaku mendapatkan informasi tersebut dari grup whatsapp. Di antara grup whatsapp itu, MCA menjadi salah satu penyebar utamanya.

“Nanti awal Maret mungkin kami akan rilis. Yang kami kejar itu ‘kan kepala [pengurus utama] MCA,” tegasnya.

TIRTO

POLISI BURU KELOMPOK MUSLIM CYBER ARMY KE LUAR NEGERI



Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Mabes Polri tengah memburu salah satu pelaku penyebar berita palsu dari kelompok Muslim Cyber Army (MCA) yang melarikan diri ke luar negeri.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Mabes Polri, ‎Brigjen Pol Mohammad Iqbal‎ mengemukakan kepolisian kini sudah bergerak untuk menangkap pelaku agar tidak lagi menyebarkan berita palsu ihwal kebangkitan PKI, penyerangan dan penganiayaan ulama, serta menyebarkan fitnah seluruh tokoh di Indonesia.

Menurutnya, kepolisian sudah meringkus 4 orang pelaku dari kelompok tersebut dan berasal dari tempat yang berbeda di seluruh Indonesia.

"Ada satu tersangka yang sudah kita kejar, dia tidak di Indonesia. Tim kami sudah bergerak untuk menangkap orang itu. Ini semua kami lakukan agar Republik ini aman dan stabil menjelang pemilu," tuturnya, Selasa (27/2/2018).

Mohammad menyebut pelaku penyebar berita palsu kelompok MCA memiliki kesamaan dengan kelompok Saracen yang beberapa waktu lalu sudah diamankan kepolisian.‎ Namun, menurutnya, dari sisi operasi kedua kelompok ini dinilai berbeda.

"Ada beberapa karakteristik yang agak mirip-mirip dua kelompok ini, tapi yang ini (MCA) jelas agak berbeda," kata Mohammad.

Sebelumnya, Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Mabes Polri meringkus 4 orang pelaku yang merupakan dalang penyebar berita palsu atau hoax dan tergabung dalam kelompok Muslim Cyber Army (MCA) pada grup Whatsapp The Family MCA.

‎Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Mabes Polri, Brigjen Pol Fadhil Imran mengemukakan para pelaku seringkali menyebarkan berita palsu mengenai kebangkitan PKI, penculikan ulama dan penyerangan terhadap nama baik presiden, pemerintah, serta sejumlah tokoh nasional lainnya di grup Whatsapp bernama The Family MCA. Menurutnya, tujuan pelaku menyebarkan berita palsu tersebut yaitu untuk memprovokasi masyarakat agar percaya dengan berita palsu itu.

"Kami di Dit Cyber Crime Bareskrim Polri dan Kamsus BIK telah melakukan penangkapan ‎secara serentak di lima kota yaitu Jakarta, Bandung, Pangkal Pinang, Bali dan Palu‎ terhadap kelompok inti pelaku ujaran kebencian Muslim Cyber Army (MCA) yang tergabung dalam Whatsapp Group The Family MCA," tuturnya.

Dia menjelaskan para pelaku yang berinisial ML, RSD, RS, dan Yus ‎diringkus tidak hanya karena menyebarkan berita palsu, tetapi juga menyebarkan malware yang dikirimkan kepada kelompok lawan agar dapat merusak perangkat elektronik penerimanya.

"Mereka sengaja menyebarkan virus ini untuk merusak perangkat milik penerimanya," kata Fadhil.

Atas perbuatannya, para pelaku akan dijerat dengan Pasal 45 A ayat (2) juncto Pasal 28 ayat (2) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan atau Pasal 4 huruf b angka 1 UU Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan atau Pasal 33 UU ITE.

BISNIS

POLISI HARUS USUT PABRIK NARASI SINDIKAT PENYEBAR HOAX FAMILY MCA

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Direktorat Cybercrime Bareskrim Mabes Polri telah menangkap sindikat penyebar hoax "Family MCA" yang anggotanya tersebar di beberapa kota di Indonesia. Penangkapan ini dinilai hanya secuil dari fenomena gunung es.

"MCA itu organisasi yang sangat cair, ada banyak sekali grup yang memakai nama MCA dan beroperasi secara kompartementasi atau sel terpisah," kata peneliti intelijen Universitas Indonesia (UI), Ridlwan Habib, di Jakarta, Selasa (27/2).

Ridlwan menilai pengungkapan "Family Group MCA" juga akan membuka gunung es sindikasi berita hoax dan ujaran kebencian di Indonesia. "Dalang utamanya, pabrik narasinya juga harus ditangkap. Penyebar hoax biasanya tidak sadar ketika berbagi konten yang ternyata isinya fitnah," ucap Ridlwan.

Dia mengatakan, di beberapa grup Whatsapp yang terindikasi menyebarkan hoax, selalu ada pemasok narasi. Untuk itu, polisi harus mengejar siapa yang memposting pertama dan asal usul info hoaxtersebut.

Dari beberapa pelaku yang sudah ditangkap sebelumnya, rata rata mereka mengaku tidak membuat sendiri konten hoax dan fitnah, melainkan sudah ada yang membuat untuk kemudian diviralkan. "Sudah ada yang membuatkan, yang kemudian setelah dilempar. Yang membuat ini mematikan nomornya atau berganti nomor," ucap alumni S2 Kajian Intelijen UI itu.

Menurutnya, narasi hoax yang dibangun sindikat biasanya seragam. Lazimnya adalah isu-isu yang selalu terkait dengan politik, terutama menyerang pemerintah dengan bumbu-bumbu kata yang seolah-olah heroik. Kondisi ini yang biasa disebut sebagai black propaganda. "Teknik melempar desas desus ini klasik, dulu sebelum ada media sosial desas desus disebar dengan selebaran, dengan obrolan warung ke warung, sekarang lewat whatsapp, " kata Ridlwan.

Dia mengatakan, konten yang sudah diluncurkan, memiliki efek yang sangat mengerikan. Sebab, dengan fitur copy paste, sebuah berita hoax bisa viral dalam hitungan detik. "Kalau seseorang mempunyai 10 grup WA dengan total anggota 500 orang, dalam waktu tiga menit, hoax bisa dibaca ke 500 sasaran," ungkap Ridlwan.

Setidaknya ada dua sebab mengapa hoax gampang tersebar. Pertama, ada unsur eksklusif dan yang kedua, unsur heroik. "Seseorang ketika mendapat informasi yang beda dengan arus media mainstreammerasa eksklusif dan penting. Lantas dia ingin dianggap orang penting dan hebat dengan menyebarkannya ke orang lain," ujarnya.

Motivasi yang kedua adalah merasa sebagai hero atau pahlawan. "Wacana bahwa pemerintah zalim, pemerintah represif terus digaungkan, jadi siapa pun yang mendapat info antipemerintah, seolah-olah dia menjadi pahlawan dan yakin bahwa yang dia sebarkan itu membela umat," katanya.

BERITASATU

THE FAMILY MCA 'GORENG' ISU PKI DAN PENGANIAYAAN TOKOH AGAMA

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Kepala Subdirektorat I Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Kombes Irwan Anwar, mengatakan grup percakapan daring The Family MCA merupakan kelompok yang 'menggoreng' isu penyerangan terhadap sejumlah tokoh agama dan rumah ibadah.

"Iya (The Family MCA) adalah pelaku penggoreng isu ulama diserang orang gila," ujar Irwan saat dikonfirmasi Selasa (27/2).

Irwan pun mengonfirmasi The Family MCA sebgai penyebar isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI), penculikan ulama, dan pencemaran nama baik presiden, pemerintah, serta tokoh-tokoh tertentu.

Para pelaku pun diduga menyebarkan virus yang dapat merusak perangkat elektronik pihak penerima.

Penyidik telah menangkap sebanyak enam orang anggota kelompok Muslim Cyber Army yang tergabung dalam grup 'The Family MCA' tersebut di enam provinsi berbeda.

Mereka adalah ML (40), yang ditangkap di Jakarta Utara, RSD (35) ditangkap di Bangka Belitung, RA (39) ditangkap di Bali, dan YUS ditangkap di Jawa Barat.

Sementara, dua tersangka lainnya masih dalam proses pendataan identitas. Mereka ditangkap di Sulawesi Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

CNN

POLISI TANGKAP 14 ANGGOTA GRUP THE FAMILY MCA DARI SEJUMLAH KOTA

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Polisi sudah menangkap 14 orang anggota Grup WhatsApp 'The Family MCA' yang diduga berperan penting dalam penyebaran ujaran kebencian dan hoaks.

Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Mabes Polri telah menangkap 14 orang yang tergabung dalam grup WhatsApp 'The Family MCA' sepanjang tahun 2018. MCA diduga adalah singkatan dari Muslim Cyber Army.

Kasubsit I Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Kombes Pol Irwan Anwar mengatakan sekitar 8 orang ditangkap oleh polisi pada awal 2018. Sementara 6 lainnya baru ditangkap pada Senin kemarin (26/2/2018).

Irwan menjelaskan dari banyak anggota grup WhatsApp 'The Family MCA', polisi hanya menangkap mereka yang diduga berperan penting dalam kasus penyebaran hoaks dan ujaran kebencian.

Enam anggota grup WhatsApp 'The Family MCA', yang ditangkap pada Senin kemarin, terciduk di sejumlah kota berbeda. Menurut Irwan, mereka ditangkap oleh polisi di Jakarta, Sumedang, Pangkal Pinang, Bali, Palu dan Yogyakarta. Dari enam orang itu, lima orang yang sudah diumumkan identitasnya oleh polisi adalah Muhammad Luth, Rizky Surya Dharma, Yuspiadin, Romi Chelsea, dan Ramdani Saputra.

Irwan menambahkan penyidik kepolisian juga berencana mengejar satu pelaku lainnya yang diduga berada di Korea Selatan.

Sayangnya, Irwan belum menjelaskan motif 14 anggota grup WhatsApp 'The Family MCA' tersebut dalam aktivitas penyebaran ujaran kebencian. Menurut dia, penyidik kepolisian masih mendalami motif mereka. Polisi juga belum menjelaskan kemungkinan aktivitas mereka dilandasi motif ekonomi sebagaimana sindikat Saracen.

"Nanti kami dalami dulu, tersangka baru sampai. Yang dari Palu dan Yogyakarta baru sampai," kata Irwan saat dihubungi Tirto pada Selasa (27/2/2018).

Berdasar penyelidikan polisi di sejumlah telepon pintar milik 14 orang tersebut, ada 9 grup WhatsApp lain yang memakai nama MCA atau menyerupainya. Menurut Irwan, grup-grup WhatsApp ini memang memiliki jumlah anggota lumayan banyak.

Sembilan grup selain yang bernama The Family MCA adalah Akademi Tempur MCA, Pojok MCA, The United MCA, The Legend MCA, Muslim Coming, MCA News Legend, Special Force MCA, Srikandi Muslim Cyber dan Muslim Sniper.

Menanggapi kasus ini, Staf khusus Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Henri Subiakto menyatakan polisi memang bisa saja menangkap penyebar ujaran kebencian dan hoaks via aplikasi pengiriman pesan WhatsApp. Sebab, penyebar ujaran kebecian dan hoaks juga bisa membagikan pesan ke banyak orang melalui sarana WhatsApp.

"Bagaimana Anda bisa menjamin informasi itu tertutup? Kalau memang isinya satu atau dua, apa bisa dijamin tidak menyebar? Kalau bertambah anggota sampai 20 saja itu juga sudah menyebar ke publik," kata Henri.

TIRTO

Senin, 26 Februari 2018

GEMPA BERKEKUATAN 7,6 SR DAN 5,9 SR GUNCANG PAPUA

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Gempa berkekuatan 7,6 dan 5,9 skala richter mengguncang wilayah Papua, Senin (26/2) dini hari.

Berdasarkan keterangan resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), gempa pertama terjadi pada pukul 00.44 WIB, dengan kekuatan 7,6 Skala Richter (SR).

Gempa bumi itu berlokasi di 6.09 LS,142.72 BT (266 km Tenggara Bovendigoel-Papua). Gempa tersebut berkedalaman 96 km.

Sementara, gempa kedua berkekuatan 5,9 scala richter mengguncang Pegunungan Bintang, Papua.

Gempa kedua terjadi 01.11 WIB. Gempa dengan kekuatan 5.9 SR itu berlokasi di 5.25 LS - 141.46 BT atau 130 km Tenggara Pegunungan Bintang-Papua

Laporan sementara dampak gempa tidak menimbulkan korban jiwa.

"Warga panik dan berhamburan keluar rumah. Saat ini sudah normal. BPBD, Dinas Kesehatan dan aparat Kabupaten melakukan pemantauan ke distrik," kata Kepala Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho

TRIBUNNEWS

AKUN INSTAGRAM USTAZ SOMAD MENDADAK DI-SUSPEND

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Akun Instagram Ustaz Abdul Somad mendadak tidak bisa diakses alias di-suspend. Banyak netizen yang mempertanyakan hal ini.

Pertanyaan itu disampaikan Kang Emil (sapaan Ridwan Kamil) melalui postingan di Instagram. Dia juga menyertakan tangkapan layar atau screenshot dari salah satu video kajian Abdul Somad di YouTube.

"@instagram, apa alasan Anda memblokir akun @ustadzabdulsomad? Saya pikir konten beliau selalu positif. Banyak orang, termasuk saya, yang belajar hal positif terutama yang berkaitan dengan isu agama. Semoga tim @instagram membuka kembali akun @ustadzabdulsomad," tulis Kang Emil, Minggu (25/2/2018).

Tak cuma Kang Emil, tak bisa diaksesnya akun Instagram Ustaz Abdul Somad juga dipertanyakan oleh Felix Siauw. Pria yang biasa berceramah baik online maupun offline ini, berharap agar akun Ustaz Abdul Somad dapat digunakan seperti sediakala untuk kepentingan dakwah.

"Akun @ustadzabdulsomad sedang tidak bisa diakses, padahal manfaatnya sangat banyak bagi ummat yang saat ini rindu dengan ulama-ulama ikhlas dan tegas dalam kebaikan. Mohon doanya agar usaha memulihkan akun @ustadzabdulsomad bisa berlangsung baik. Bagi yang punya akses ke @instagram Indonesia, juga bisa ditanyakan, mengapa ini bisa terjadi. InsyaAllah dakwah pasti akan selalu menemukan jalan kebaikan," tulis Felix Siauw.

DETIK

FPI KERAP BAKAR BENDERA PKI, LANTAS DARIMANA MEREKA DAPAT BENDERA ITU?

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Dalam beberapa waktu belakangan ini, isu mengenai kebangkitan PKI kembali mencuat di publik. Konon dikatakan bahwa PKI dengan jutaan anggotanya siap merebut kekuasaan di Indonesia.
Dalam beberapa momen, ormas keagamaan seperti Front Pembela Islam (FPI) pun kerap terlihat menggelar aksi demonstrasi untuk menolak kehadiran PKI kembali di Indonesia. Sembari itu, mereka sangat yakin bahwa PKI kini sedang menyiapkan kebangkitannya.

Entah darimana keyakinannya itu datang kepada mereka. Namun saat ditanya bukti, mereka pun mengaku punya buktinya.

Kemudian, untuk meyakinkan publik, mereka sering membakar bendera PKI di aksi-aksi demonstrasinya. Selain itu, mereka juga mengaku mengetahui lokasi persembunyian PKI itu.

Namun, dengan berbagai cuplikan informasi di atas, tentu kita bisa bertanya balik dengan kritis:

Pertama, "Bila ada kebangkitan PKI, dan mereka tahu titik lokasi dan buktinya, kenapa mereka tidak segera melaporkan ke pihak berwajib?"

Pertanyaan kedua, "PKI jelas sudah habis dibabat sejak pertengahan tahun 1960-an dan simbolnya telah dilarang hingga kini. Lantas dari mana anggota FPI bisa mendapatkan bendera PKI yang kerap mereka bakar saat demonstrasi?"

Kedua pertanyaan tersebut, secara kritis bisa mengarahkan kita pada titik temu mengenai motif di balik isu kebangkitan PKI saat ini.

Apalagi, sebelumnya tidak tersiar satu pun kabar bahwa FPI telah melakukan sweeping di kantor PKI dan menemukan alat bukti berupa bendera PKI. Apakah bendera PKI yang dibakar FPI turun dari langit? Rasanya tidak mungkin.

Agar dapat memiliki suatu bendera PKI, tentu hanya dengan dua cara. Pertama dari pihak lain, seperti dari hasil melakukan sweeping. Kedua dari cetak sendiri.

Dengan kondisi demikian, sekarang sudah jelas darimana FPI mendapatkan bendera PKI. Yaitu, dengan mencetak sendiri bendera PKI yang akan mereka bakar.

Hal itu kemudian dikuatkan dengan beredarnya kabar bahwa anggota Banser/Ansor NU menemukan bendera PKI di markas FPI. Bendera-bendera itu baru saja dicetak untuk dijadikan bahan kampanye dan perangkat demonstrasi.

Dengan analisa singkat tersebut, kini bisa ditarik suatu kesimpulan tentang isu kebangkitan PKI yang sering dihembuskan oleh FPI tersebut. Bahwa itu tak lain dan tak bukan merupakan isu fiktif yang sengaja disebarkan oleh FPI.

Adapun tujuan dari aksi tersebut tentu sangat politis. Yaitu, untuk menyudutkan pemerintahan yang sah saat ini. Mereka ingin menjatuhkan nama Presiden Jokowi dan partai pendukungnya sebagai katalisator kebangkitan PKI.

Mereka yang menyebarkan isu kebangkitan PKI dapat diidentifikasi sebagai pihak-pihak yang berada di seberang Istana hari ini. Hal itu sesuai dengan survei SMRC beberapa waktu lalu, dimana mereka yang percaya PKI 'bangkit' kebanyakan merupakan pemilih PKS (37 persen), Gerindra (20 persen), dan PAN (18 persen).

Kini, mereka ingin menggalang isu seakan pemerintahan Presiden Jokowi mendukung kebangkitan PKI. Tujuannya agar pemerintah mendapatkan gambaran buruk dari masyarakat.

Caranya adalah dengan membangkitkan kembali isu hantu komunis di Indonesia. Dengan begitu, memori buruk mengenai suatu rezim pemerintahan akan terbentuk dengan sendirinya. Harapannya suara Presiden Jokowi nanti akan jeblok saat Pemilu.

Namun, bila diamati sebenarnya cara adu domba ala FPI di atas tak lebih baik dari PKI itu sendiri. Mereka berusaha memecah belah masyarakat dengan desas-desus dari informasi yang sesat. Persis cara PKI saat menjelang peristiwa kudeta pada 1965 lalu.

Dengan memahami alur logika di atas, kini kita tahu bahwa di balik isu kebangkitan PKI saat ini terdapat tujuan yang politis. Isu kebangkitan PKI itu sendiri bukanlah suatu kebenaran, melainkan desas-desus yang disebarkan untuk mengacaukan masyarakat.

Untuk itu, kita tak perlu mudah terprovokasi dengan adanya isu tersebut. Selain itu, juga jangan sampai kita turut menjadi bagian dari mereka dengan menyebarkan ulang isu sesat di atas.

KUMPARAN

SOAL ISU PKI DI MEDSOS, POLISI YAKINKAN ITU HOAKS

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Jajaran Polres Bogor kembali melakukan klarifikasi atas berita hoaks terkait kehadiran oknum Partai Komunis Indonesia (PKI) di media sosial. Setelah isu ini sempat menyebar di Kampung Narogong, Kecamatan Klapanunggal, kini giliran Kampung Karihkil, Kecamatan Ciseeng, Parung, Bogor.

Kapolsek Parung, Kompol Parmin, menjelaskan, jajarannya telah memastikan bahwa informasi yang dilakukan oleh MF (25 tahun) tersebut adalah hoaks. "Kami telah melaksanakan musyawarah bersama camat Ciseeng dan tokoh masyarakat pada Jumat (23/2), " tuturnya ketika dikonfirmasi Republika, Ahad (25/2).

Parmin menyebutkan, penyebaran isu dilakukan atas kesalahpahaman MF terhadap seorang laki-laki tidak dikenal yang mondar-mandir di kampungnya pada Selasa (20/2) sekitar jam 22.30 WIB. Ia segera diamankan oleh warga setempat di hari yang sama.

Kemudian, Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) membawa laki-laki tidak dikenal itu ke Polsek Parung untuk dimintai keterangan. Ketika ditanyakan, diketahui namanya Husyairi (25), warga Kampung Arman, Kelurahan Tugu, Cimanggis, Depok. "Setelah dimintai keterangan, kami antarkan ke alamat yang disebutkan, " ucap Parmin.

Sementara itu, atas tindakannya, MF telah membuat surat pernyataan dan video permintaan maaf. Ia juga telah mengklarifikasi di akun Facebook-nya bahwa berita yang diunggah adalah tidak benar. Pihak Polsek Parung pun menyerahkan MF kepada orang tuanya pada Jumat (23/2) pukul 17.30 WIB.

Sebelumnya, jajaran Kepolisian Sektor (Polsek) Klapanunggal, Bogor, mengamankan pelaku penyebar isu hoaks atas nama Lili Solihin pada Kamis (22/2) pukul 06.45 WIB. Ia menyebarkan informasi palsu terkait keberadaan Partai Komunis Indonesia (PKI) di wilah Kampung Narogong, Desa Kembangkuning, Kecamatan Klapanunggal, Bogor.

Dalam pemeriksaan yang dilakukan Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polsek Klapanunggal, diketahui bahwa Lili dengan sengaja menyebar isu hoaks tersebut melalui akun Facebook-nya. Ia menyebutnya dengan istilah Narogong Siaga Satu, tutur Kapolsek Klapanunggal, AKP Adhimas Sriyono Putra, dalam keterangan yang diterima Republika, Kamis (22/2) sore lalu.

Pengguna Facebook lain sempat mempertanyakan kepastian dari informasi Lili. Ia pun berupaya meyakinkan warganet dengan menyebutkan bahwa nanti juga akan ramai. Lili juga menyertakan foto coretan di rumah salah satu warga atas nama Habib Syarif Abdullah.

Tapi, usai pemeriksaan penyidik, diketahui bahwa Lili menyebar isu itu atas dasar opini sendiri dengan alasan memberi peringatan di Kampung Narogong akan bahaya penyusupan dan target oleh PKI.

"Sementara itu, cat atau tanda yang ada di rumah Habib adalah tanda penunjuk arah menuju jalan tembusan, " ujar Adhimas usai melakukan rapat koordinasi dengan muspida dan pemuka agama daerah setempat.

Kepada masyarakat, Adhimas menganjurkan agar tidak cepat menyebarkan isu di media sosial yang belum jelas kebenarannya. Ia juga meminta agar warganet tidak mudah percaya dengan informasi yang kini banyak beredar di dunia maya.

Salah satu tokoh agama Kampung Narogong, Asep, mengatakan, banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi kejadian serupa terjadi. "Termasuk, perlu sekiranya disampaikan dalam khutbah Jumat soal isu-isu yang belum jelas kebenarannya dan yang selama ini meresahkan masyarakat, " tuturnya.

Usai rapat koordinasi yang mempertemukan antara jajaran Polsek Klapanunggal, muspida dan pelaku, dihasilkan berupa surat pernyataan dan permintaan maaf dari pelaku. Penandatanganan turut disaksikan ketua RT/RW setempat.

REPUBLIKA

BIADAB! BUYA JADI SASARAN TEROR ORANG GILA YANG NGAKU PKI

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Kasus penyerangan terhadap tokoh agama masih marak terjadi. Tercatat sudah ada 21 kasus teror. Akibatnya banyak ulama yang terluka hingga meninggal dunia.

Para pelaku yang terlalu buru-buru dicap orang gila itu, lebih sering mengincar kalangan ulama di pondok pesantren. Paling terkahir terjadi adalah kasus di Lamongan, Jawa Barat.

Sementara itu untuk di Jawa Barat, teror juga dialami oleh Buya Royanuddin, Pimpinan Ponpes Terpadu Al-Istiqomah di Kecamatan Gunung Guruh, Sukabumi, mengaku mendapat informasi soal dirinya yang menjadi target teror orang gila tersebut.

Buya mengungkapkan, berdasarkan informasi saat diinterogasi pihak berwajib, pelaku yang dianggap gila itu mengaku sebagai anggota PKI. Bahkan membawa catatan beberapa orang tokoh agama di sekitaran wilayah Sukabumi dan Cianjur sebagai target.

“Ya, termasuk nama saya juga tercantum dalam catatan itu,” jelas Buya kepada Radar Sukabumi (JawaPos Grup).

Namun ia memastikan, hingga saat ini dirinya masih dalam keadaan baik-baik saja, dan meminta semua kalangan untuk tetap tenang.

“Bahkan, saya tidak ada sedikitpun rasa gentar menghadapinya jika itu merupakan sebuah terror,” kata dia.

Baginya, isu teror ini harus menjadi sarana untuk lebih mendekatkan diri lagi kepada Allah. Selain itu, ia juga menghimbau kepada para santri, aktivis majelis taklim, remaja masjid dan aktivis muda Islam agar dapat menjaga para kiai sebagai wujud nyata dari kecintaan terhadap ilmu dan ulama.

“Untuk itu, kepada para kiai dan pimpinan ponpes saya mengajak mari kita bimbing, arahkan dan pimpin ummat dalam menegakkan keadilan dan kebenaran serta meninggikan ‘izzah Islam wal Muslimin,” bebernya.

Adapun kasus-kasus yang memang benar adanya terjadi aksi teror atau yang menunjukkan adanya kecurigaan agar bersinergi dengan aparat kepolisian.

“Jangan sampai aparat kehilangan kepercayaan kemudian terjadi tindakan-tindakan main hakim sendiri,” katanya.

JPNN

BEGINI NASIB EMAK-EMAK PENGGIGIT TANGAN POLISI DI KUDUS

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Seorang wanita berkerudung di Kudus, Jawa Tengah yang menggigit seorang polisi saat hendak ditilang harus menanggung akibat dari ulahnya itu. Ya, wanita berinisial ATK itu dilaporkan oleh korban yang bernama Erlangga Hananda Seto pada Kamis 22 Februari 2018 kemarin ke Polres Kudus.

Sebelumnya, wanita itu kesal bukan main ketika hendak ditilang polisi. Ia tak berhenti teriak-teriak mengumpati anggota yang bertugas di lapangan.

Padahal, selain tidak menggunakan helm, wanita itu juga tidak membawa surat kelengkapan berkendara seperti Surat Izin Mengemudi (SIM).

Insiden penggigitan tangan terjadi saat Erlangga hendak mencabut kunci motor wanita tersebut. Akibat insiden itu, tangan kanan korban mengalami luka hingga berbekas, dengan bekas gigitan yang cukup dalam.

Dalam surat laporannya yang beredar di media sosial facebook, Erlangga turut membawa dua orang saksi, satu di antaranya sesama anggota polisi bernama Agus Zuri Yanto, dan seorang lainnya berstatus sebagai karyawan swasta bernama Bambang Supraptomo.

OKEZONE

Minggu, 25 Februari 2018

FPI SALAHKAN POLISI SEBAGAI PENYEBAB RIZIEQ SHIHAB BATAL PULANG

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Imam besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab batal pulang ke Indonesia pada Rabu, 21 Februari 2018 lalu.

Menurut Sekretaris Jenderal DPD FPI DKI Jakarta Novel Bamukmin, polisi sebagai penyebab batalnya Rizieq Shihab pulang dan disebut tidak ada itikat baik.

“Polisi mau menangkap (Rizieq Shihab-red). Buktinya dikerahkan 3.500 polisi lengkap dengan watercanon dan baracuda. Ini itikat yang tidak baik,” kata Novel Bamukmin saat dikonfirmasi, Sabtu, 24 Februari 2018.

Lebih lanjut, Novel Bamukmin mengatakan, rencana kepulangan Rizieq Shihab pada 21 Februari lalu adalah kemauan umat. Namun, Rizieq Shihab tidak jadi pulang, karena menurutnya polisi akan langsung memenjarakan Rizieq Shihab.

Bahkan, menurut Novel Bamukmin, sangkaan terlibat pornografi yang diarahkan polisi kepada Rizieq Shihab tidak terbukti. “Seharusnya yang dicari adalah penyebarnya,” ujarnya.

Selain itu, Novel Bamukmin juga mengatakan, umat Islam siap membela jika Rizieq Shihab dipenjarakan. Meskipun demikian, Rizieq Shihab memilih tetap berada di Arab Saudi dengan alasan agar tidak ada masyarakat yang menjadi korban.

Sebelumnya, Rizieq Shihab disebut akan kembali ke Indonesia jika polisi mengeluarkan surat perintah penghentian penyidikan (SP3) atas Rizieq Shihab menyusul penetapan status tersangkanya. Atau Rizieq Shihab pulang setelah rezim saat ini (pemerintahan Presiden Joko Widodo) runtuh di 2019.

Sementara itu, Polda Metro Jaya masih menunggu kepulangan Rizieq Shihab untuk melanjutkan proses penyidikan terhadap kasus dugaan chat berkonten pornografi bersama wanita bernama Firza Husein.

“Kami masih menunggu bagaimana itu Pak Habib (Rizieq Shihab-red) datang ke Indonesia,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono saat dikonfirmasi di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat, 23 Februari 2018.

Kombes Argo Yuwono menyebutkan, belum dilanjutkannya kasus chat berkonten pornografi karena Rizieq Shihab masih berada di Arab Saudi. “Untuk kasus itu dari berkas masih dalam komunikasi,” ujarnya.

Selain itu, menurut Kombes Argo Yuwono, pihaknya juga belum mau membahas kelanjutan berkas penyidikan. “Kami tunggu saja Pak Rizieq datang ke Indonesia,” tandasnya.

HARIANPIJAR

JADI KORBAN UJARAN KEBENCIAN? BEGINI CARA LAPORNYA KE POLISI

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Salah satu bentuk penyalahgunaan media sosial adalah penyebaran ujaran kebencian alias hate speech. Padahal ada sanksi hukum menanti kalau seseorang menyebarkan ujaran kebencian.

Ujaran kebencian berbeda tipis dengan pencemaran nama baik. Perbedaannya ada di cakupan korbannya.

"Kalau ujaran kebencian atau hate speech itu bisa menyerang ke lembaga negara, atau ke suku, agama, ras, dan antargolongan," kata Kasubdit Siber Bareskrim Polri Kombes Irwan Anwar saat berbincang dengan detikcom di kantornya, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (20/2/2018).


Berbeda dengan ujaran kebencian, pencemaran nama baik biasanya menyerang ke individu. Polisi bisa saja menindak pelaku hate speech yang masuk ke delik murni.

"Tapi tentunya kami juga mengharapkan inisiatif dari masyarakat untuk melaporkan (ujaran kebencian)," imbuh Kasubag Ops Siber Bareskrim Polri AKBP Jefridian Juniarta.

Jefri kemudian menjelaskan proses pelaporan ujaran kebencian ke kantor polisi. Menurut Jefri, semua kantor polisi dari tingkat Polsek hingga Mabes Polri bisa untuk melaporkan dugaan tindak pidana siber berupa hate speech.

"Tapi saya menyarankan setidaknya melapor ke tingkat Polres, karena di tingkat Polres memiliki penyidik yang lebih banyak," ujar Jefri.

Begini cara melaporkan ujaran kebencian ke kantor polisi:

1. Siapkan bukti yang cukup seperti tangkapan layar (screenshot), url, foto, atau video dari ujaran kebencian yang akan dilaporkan. Bisa dikumpulkan dalam media penyimpanan seperti flashdisk, harddisk, CD/DVD, dan lainnya. Satu bukti yang kuat sudah cukup.
2. Datang ke kantor polisi terdekat, dianjurkan setidaknya mendatangi tingkat Polres
3. Menuju ke ruang SPKT kantor polisi tersebut
4. Menyampaikan ke petugas SPKT tentang ujaran kebencian yang akan dilaporkan berikut bukti-buktinya
5. Petugas akan memberikan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan laporan ujaran kebencian
6. Petugas mencetak bukti pelaporan
7. Menunggu pemberitahuan selanjutnya dari polisi

Bagaimana, nggak ribet kan? Jadi, jangan ragu untuk laporkan ujaran kebencian ke polisi!

DETIK

FPI: ALUMNI 212 AKAN TURUN KEPUNG SIDANG PK AHOK

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Massa yang tergabung dalam organisasi masyarakat Front Pembela Islam (FPI) dan presidium 212 berencana untuk melancarkan aksi kembali. Kali ini, mereka akan mengepung sidang perdana peninjauan kembali (PK) kasus penistaan agama yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Hal itu dipertegas oleh salah satu Tokoh FPI Novel Bamukmin yang berpendapat bahwa secara hukum, masalah Ahok telah menjadi bagian semua tim advokat muslim di Indonesia yang menjadi beberapa wadah.

"Dengan spirit 212 dan juga alumni 212, insya Allah akan turun kepung MA dalam sidangnya Ahok," ujar Novel saat dihubungi JawaPos.com, Sabtu (24/2).

Dengan pengajuan PK, mantan Gubernur DKI Jakarta itu dianggap menyalahi aturan dan melangkahi prosedur hukum yang telah menjadi ketetapan pemerintah selama ini. Sebab dengan mengajukan PK, vonis terpidana dapat berkurang.

"Ini adalah modus baru dengan tipu daya yang terstruktur dalam upaya mengurangi hukuman dengan melangkahi prosedur yang sudah menjadi ketetapan selama ini," katanya.

Novel menjelaskan, semua itu mendasar pada yurisprudensi atau banding dan kasasi yang apabila terpidana mengajukan keduanya ada kemungkinan bertambah berat. "Sedangkan bila terpidana mengajukan PK maka bisa dikatakan mustahil hukuman yang diperolehnya di pengadilan tingkat pertama diperberat oleh majlis hakim PK," terang dia.

Dasar hukum yang dimaksud adalah pasal 266 ayat 3 KUHAP, ketentuan itu berbunyi, 'Pidana yang dijatuhkan dalam putusan peninjauan kembali tidak boleh melebihi pidana yang telah dijatuhkan oleh putusan semula'.

Sebelumnya diberitakan, berkas memori PK Ahok diajukan pada tanggal 2 Februari 2018 lalu. Sebagai tindak lanjut, majelis hakim menetapkan sidang perdana PK tersebut akan digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, Senin (26/2) mendatang.

JAWAPOS

SAMBIL MEMAKI-MAKI, PRIA INI KECAM FPI YANG PROTES PK AHOK

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Beredar rekaman video seorang pria mengecam Front Pembela Islam (FPI) yang menentang upaya peninjauan kembali (PK) kasus mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Rekaman video itu berdurasi 3.33 menit dan beredar di jejaring media sosial.

"Ahok itu mau melakukan apa saja itu hak dia karena masih selaku warga negara Indonesia... Jadi dalam rangka peninjauan kembali Ahok tidak perlu dibesar-besarkan, apalagi demo besar-besaran," jelasnya.

Menurutnya FPI tidak benar-benar membela umat Islam, sebab masih banyak muslim Indonesia juga di belahan dunia lain yang tertindas namun tidak dibantu oleh FPI.

"Itu saudara kita (TKI) yang di Arab dipukuli, dianiaya bantu sana," ujarnya.

Masih katanya, FPI harus bersikap jantan dengan membawa pulang Rizieq Shihab ke Indonesia guna menghadapi proses hukum yang sudah menanti.

Tak lupa, pria berkaca mata yang mengenakan topi hitam itu menyelipkan makian dan hujatan terhadap FPI, mulai dari isi kebun binatang hingga serangga parasit yang kerap bersarang di tempat tidur.

LIPUTAN6

GELAR PERTEMUAN TERTUTUP, LOYALIS RIZIEQ SHIHAB SERUKAN TIGA TUNTUTAN ULAMA

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Loyalis Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab yang terdiri atas ulama dan para aktivis menggelar Kaukus atau pertemuan tertutup di Gedung Joang, Jakarta Pusat, Sabtu (24/2/2018).

Dalam pertemuan itu, mereka menyerukan Trituma atau Tiga Tuntutan Umat untuk mengawal ulama dan aktivis muslim yang kritis kepada pemerintah.

Trituma itu terdiri atas: hentikan kriminalisasi terhadap alim ulama dan aktivis, menjamin keselamatan alim ulama dan aktivis, serta rekonsiliasi Kebhinekaan guna persatuan Indonesia.

"Kami bikin kaukus yang terdiri atas berbagai elemen, dari mahasiswa Islam, berbagai organisasi masyarakat, dan aktivis-aktivis muslim," ujar Sekjen Kaukus Pembela Imam Besar Rizieq Shihab, Dedi Suhardadi.

Dedi menyebut, Kaukus ini awalnya untuk mengawal Rizieq Shihab dalam menghadapi polemik yang menimpa Imam Besar FPI itu. Mereka menilai Rizieq telah dikriminalisasi oleh kepolisian.

"Kami mencoba berkumpul untuk sama-sama mengawal ulama. Memang khusus ulama karena imam besar kami yang saat ini kami rindukan kehadirannya di republik tercinta ini," ujar dia.

Tetapi, di sisi lain, Dedi menekankan, Kaukus ini ke depannya tetap akan membela para ulama yang dinilai kritis dan kerap memberikan komentar tajam untuk para penguasa negeri ini. Mereka tak ingin para ulama seakan dibungkam dengan aksi kriminalisasi.

"Walaupun memang muaranya Habib Rizieq sebagai ikon kita, tetapi bukan Habib Rizieq saja yang kami bela. Jadi semua aktivis akan kami bela. Ini wadah untuk kami melakukan pembelaan itu," papar Dedi.

Dengan adanya pertemuan dan Trituma ini, Dedi meminta kepada semua pihak yang tergabung dalam Kaukus Pembela Rizieq peduli dan aktivis terlibat dengan perjuangan umat demi tercapainya negara yang maju, berkeadilan dan sejahtera. Dedi menyebut, Indonesia yang mayoritas muslim justru tak memberikan keleluasaan pada umat muslim.

"Kami sama-sama deklarasikan Kaukus Pembela Imam Besar Umat Islam Indonesia Habib Rizieq Shihab," tutup dia.

OKEZONE

ORMAS DI NTB DEKLARASI TOLAK KAMPANYE DI MASJID

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Usai salat Jumat, puluhan warga berkumpul membawa spanduk dan mendeklarasikan gerakan stop kampanye di tempat ibadah yang diinisasi oleh sejumlah ormas islam NTB dan warga masyarakat muslim di Nusa Tenggara Barat.

Seperti ditayangkan Liputan6 Pagi SCTV, Sabtu (17/2/2018), dalam deklarasi di halaman Masjid Hubbul Wathan Islamic Center Mataram, massa juga membentangkan spanduk besar berukuran puluhan meter di menara masjid. Mereka berharap para calon kepala daerah bijak dalam kampanye dengan tidak menggunakan tempat ibadah sebagai tempat menggalang dukungan.

"Marilah kita jadikan pemersatu umat. Jangan katakan masjid sebagai pemecah belah umat, apalagi sampai ujaran kebencian. Jangan sampai itu orang begini, si fulan akhlaknya enggak bener," ujar Nanag Edward, Perwakilan Ormas Islam.

Ajakan tolak kampanye di tempat ibadah diapreseasi Gubernur Nusa Tenggara Barat, Muhammad Zainul Majdi.

"Rumah Ibadah jangan jadikan tempat kampanye. Ada ruang ruang lain ruang media massa ada, ruang diskusi ada, ruang dunia maya da silahkan adu diskusi disitu," ujar Gubernur Nusa Tenggara Barat, Muhammad Zainul Majdi.

Pilkada serentak di NTB akan berlangsung di Bima, Lombok Timur, Lombok Barat dan tingkat provinsi NTB.

LIPUTAN6

Sabtu, 24 Februari 2018

GOLKAR: BANYAK PARTAI MENDUKUNG, ARTINYA PAK JOKOWI BERHASIL!

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Sikap PDI Perjuangan (PDIP) yang secara resmi mendukung kembali Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai calon presiden di Pilpres 2019, disambut baik oleh Partai Golkar yang lebih awal mengusung Jokowi.

Wasekjen Partai Golkar, Maman Abdurrahman mengatakan, pihaknya sangat bersyukur mendengar partai besutan Megawati Soekarnoputri itu mengusung kembali Jokowi dalam pilpres mendatang. "Saya bersyukur, alhamdulilh bahwa PDIP akhirnya mendukung Pak Jokowi," katanya kepada Okezone, Sabtu (24/2/2018).

Menurutnya, keputusan partai berlogo banteng moncong putih itu tentunya sudah berdasarkan perhitungan matang, salah satunya adalah bahwa Jokowi adalah sosok terbaik untuk memimpin Indonesia.

"Tentunya PDIP mendukung Jokowi karena sudah punya perhitungan yang matang bahwa Pak Jokowi ang terbaik," kata Maman.

Menurutnya lagi, banyaknya partai politik yang mendukung Jokowi dapat diartikan sebagai pengakuan bahwa Jokowi berhasil membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

"Semakin banyak dukungan kepada Pak Jokowi semakin baik, artinya semuanya semakin mengakui dan menyadari keberhasiln Pak Jokowi memimpin Negara ini," tutupnya.

Sebagaimana Diketahui, PDIP resmi mendeklarasikan dukungan kepada Jokowi sebagai calon presiden 2019-2024. Deklarasi ini disampaikan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III PDIP di Grand Inna Bali Beach Hotel.

Jokowi pun mengungkapkan terima kasihnya atas kepercayaan yang diberikan. Ia yakin akan membawa Indonesia lebih baik lagi.

"Dan itulah yang saya yakin pemerintahan ke depan akan lebih stabil, lebih efektif, karena dukungan partai-partai‎ yang menyatu dengan dukungan rakyat," tegasnya.

OKEZONE

PDIP MINTA POLISI TANGKAP PENYEBAR HOAX KEKERASAN KE PEMUKA AGAMA

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Politisi PDI Perjuangan yang juga Anggota Komisi II DPR RI, Budiman Sudjatmiko meminta pihak kepolisian agar segera membongkar dan menangkap penyebar hoax soal kekerasan ke pemuka agama.

“Segera bongkar dan tangkap. Mereka yang tak dewasa berpolitik selalu saja membuat gaduh. Si pecundang yang biasa ngunyah dogma mentah-mentah tanpa bumbu,” kata Budiman dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (23/2).

Menurut Budiman, perekayasa dan penyebar hoax itu dilakukan oleh mereka yang mencari duit di jalan poltik, namun aslinya bermental pemalas cuma modal ngomong, padahal mereka jika bekerja real mereka nggak mampu. Jadi kerjanya, mengadu domba, bikin suasana gaduh.

Ia menambahkan, hal ini tidak bisa dibiarkan guna menciptakan suasana politik sehat dalam menghormati dan menjunjung demokrasi.

“Aku mikirnya berpotik itu mulia namun sekarang terbalik, berpolitik dimaknai sebagai alat menyedot duit,” sindir Budiman.

Ia juga menilai, semakin rajin pemenang yang jujur membersihkan lumpur, semakin bersemangat juga si pecundang yang dengki mengotori lantai dengan macam-macam kotoran baru dan bau, itulah faktanya.

“Sebagian besar dari orang-orang ini dulu latihan berpolitiknya dalam tradisi seperti itu. Kekuasaan bukan sebagai kendaraan bagi ide-ide politik tapi sebagai alat penyedot duit,” tandasnya.

Seperti diketahui, saat ini pihak Kepolisian telah mengantongi identitas sejumlah akun penyebar kabar bohong atau hoax mengenai kekerasan terhadap sejumlah pemuka agama.

Polri telah mengelompokkan para aktor penggoreng isu penyerangan terhadap pemuka agama di media sosial menjadi dua, pertama yang mencuatkan kabar bohong soal penculikan ulama, guru mengaji dan muadzin; dan kedua yang melakukan penghinaan terhadap tokoh agama.

“Jadi siap-siap saja jika masih terus menyebarkan hoax, fitnah, atau apapun yang melanggar norma seperti itu,” tutup Budiman.

AKURAT

POLISI TANGKAP SEORANG WARGA LAMPUNG YANG SEBAR BERITA HOAX SOAL MEGAWATI

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Penyidik Subdit 1 Tindak Pidana Siber Mabes Polri, Kamis (‎22/2/2018) kemarin menangkap seorang warga Lampung yang memposting berita hoaks soal mantan Presiden Megawati Soekarnoputri yang melarang azan.

Jumat (23/2/2018) hari ini, pelaku inisial SF (35) sudah dibawa ke Jakarta untuk diperiksa dan mempertanggungjawabkan perbuatannya lantaran menyebarkan berita hoaks dan konten SARA melalui grub WhatsApps dan media sosial

Pelaku menyebarkan konten SARA melalui facebook lalu diviralkan di media sosial‎.

Berdasarkan keterangan pelaku, berita didapat dari "Media Indonesia" lalu di-copy dan disebarkan di Facebook.

"Pelaku inisial SF ditangkap di rumahnya, Jalan KS Tubun Taman Asri Baradatu, Way Kanan, Lampung. Selain mengamankan pelaku, kami juga menyita barang bukti HP Evercross B74 hitam, simcard simpati, simpati, fotocopy KTP," ucap Kasubdit I Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Kombes Irwan Anwar‎ di Bareskrim Polri, Cideng, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Irwan menambahkan ulah pelaku menimbulkan kerugian terhadap nama baik Megawati Soekarnoputri secara perorangan karena kontennya yang luar biasa.

Atas perbuatannya pelaku dijerat Pasal 14 ayat 2 UU RI No 1 tahun 1946, Pasal 45 A ayat 2 Jo Pasal 28 ayat 2 UU No 19 tahun 2016 tentang ITE, Pasal 16 Jo Pasal 4 huruf b angka 1 UU No 40 tahun 2008.

TRIBUNNEWS

POLDA METRO PERIKSA ELVY SUKAESIH PADA SENIN

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Penyidik Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya berencana memeriksa pedangdut senior Elvy Sukaesih terkait dugaan penyalahgunaan Narkoba putrinya, Dhawiya Zaida, pada Senin (26/2). Polda Metro Jaya telah melayangkan surat pemanggilan terhadap Elvy Sukaesih.

"Penyidik akan memanggil (Elvy) sebagai saksi," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Argo Yuwono di Jakarta, Jumat (23/2).

Argo mengatakan penyidik kepolisian telah melayangkan surat pemanggilan terhadap ratu dangdut tersebut. Sebelumnya, anggota Subdirektorat I Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya pimpinan AKBP Jean Calvin meringkus Dhawiya, tunangan Dhawiya bernama Muhammad (34), dua kakak Dhawiya yakni Syehan dan Ali Zaenal Abidin, serta istri Syehan yaitu Chauri Gita pada Jumat (16/2) pukul 00.30 WIB.

Awalnya, petugas menerima informasi tersangka Muhammad kerap bertransaksi narkoba di Cawang, Jakarta Timur. Selanjutnya, polisi meringkus Muhammad dan menggeledah salah satu kamarnya yang ditemukan sabu-sabu seberat 0,38 gram pada ban pinggang celana yang ditelah dimodifikasi disaksikan tersangka Ali Zaenal Abidin.

Petugas mengembangkan penggeledahan di kamar Dhawiya yang bersama Syehan dan Chauri sedang menggunakan sabu. Dari tersangka Muhammad, polisi menyita barang bukti 0,38 gram sabu-sabu, satu sedotan dan satu unit telepon selular.

Petugas mengamankan barang bukti dari Dhawiya berupa satu dompet merek Manggo berisi 0,45 gram sabu-sabu, dua bong, sembilan cangklong kaca, empat selang plastik, satu telepon selular, satu plastik berisi sedotan, satu gulung aluminium foil, satu alat hisap sabu-sabu bekas pakai, alat timbangan digital, buku tabungan atas nama Dhawiya dan satu kotak berisi alat hisap sabu-sabu.

Barang bukti dari Syehan dan Chauri berupa dua timbangan digital, satu alat hisap sabu-sabu, dua telepon selular dan satu komputer tablet merek Ipad.

REPUBLIKA

BARESKRIM SELIDIKI KELOMPOK MIRIP SARACEN DI JAWA BARAT

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)
 
Bareskrim menduga ada kelompok ujaran kebencian dan berita bohong mirip Saracen di Jawa Barat. Kelompok ini disinyalir muncul berkaitan dengan pilkada serentak mendatang.

"Kami mensinyalir menduga kuat ada kelompok yang menyerupai Saracen. Insyallah tidak dalam waktu lama akan kami ungkap," kata Kepala Patroli Satgas Siber Bareskrim Polri Kombes Irwan Anwar di gedung Siber Bareskrim, Cideng, Jakarta Pusat, Rabu (21/2/2018).

Selain di Jawa Barat, kelompok ini akan beroperasi di Banten dan Jawa Timur. Kelompok ini diduga akan menyebarkan informasi mengenai penculikan ulama, tokoh agama, dan isu kebangkitan PKI.

Bareskrim memang menangkap 18 orang dari Banten, Jawa Barat, Jakarta Timur, Lampung, dan Sumatera Utara sepanjang 2018. Dari jumlah itu, 8 orang diduga berhubungan dengan kelompok mirip Saracen tersebut.

"Kami menduga ada kelompok menyerupai Saracen. Bahkan dari jaringan itu, mereka sudah ada 8 orang yang kami proses. Yang lainnya hanya menyebar ke grup WhatsApp dan media sosial," ujarnya.

DETIK

BARESKRIM TEMUKAN TITIK TERANG DALANG ISU TEROR PEMUKA AGAMA

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Ari Dono mengatakan, pihaknya sudah mendapatkan titik terang di balik teror kepada para pemuka agama.

Berdasarkan data yang dimiliki Bareskrim, terdapat 21 peristiwa kekerasan terhadap pemuka agama, yaitu di Aceh, Banten, DKI Jakarta, Yogyakarta. Masing-masing kota itu terjadi satu peristiwa. Namun di Jawa Timur terjadi empat peristiwa dan Jawa Barat tercatat sebanyak 13 peristiwa.

"Hasil penelusurannya, seluruh peristiwa itu murni kriminal biasa. Pelaku, modus hingga motifnya beragam dan tak ada kecenderungan seperti yang selama ini jadi pembicaraan masyarakat. Justru masyarakat malah terjebak dengan agenda sebenarnya jika terus membicarakan ini," ujar Ari di Jakarta, Rabu 21 Februari 2018.

Hasil penyelidikan, ditemukan fakta bahwa apa yang selama ini disebar di media sosial terkait teror kepada pemuka agama adalah hoax.

"Tujuan hoax itu justru untuk menggiring opini bahwa negara ini sedang berada dalam situasi dan kondisi yang seolah-olah bahaya. Di titik ini, masyarakat sebenarnya justru terjebak dalam skenario dari sutradara hoaks itu," tegas Ari.

Ari mengungkapkan, berdasarkan hasil penyelidikan, penyebaran hoax itu memang terstruktur dan sistematis.

"Misalnya saja, dari media sosial. Diketahui ada puluhan ribu artikel pembahasan yang membahas dan berkorelasi dengan permasalahan penyerangan ustaz, ulama dan tokoh agama," ungkap Ari.

Isu tersebut lantas dikaitkan dengan isu kebankitan PKI. Tujuannya jelas, kata Ari, membuat kegaduhan dan kekacauan. Kabar bohong itu lantas digelindingkan di berbagai flatform media sosial dan media massa.

"Akun-akun yang membahas hal tersebut dimotori beberapa akun yang sudah dikantongi oleh Polri. Jadi, siap-siap saja jika masih terus menyebarkan hoax seperti itu," tegas Ari.

Dari penyelidikan selama ini, Bareskrim berhasil mengidentifikasi mereka yang bertanggung jawab dalam menyebarluaskan hoaks.

"Pengelompokkannya menjadi dua gugus. Pertama ada yang mencuatkan hoax penculikan ulama, guru ngaji dan muadzin. Kedua melakukan penghinaan terhadap tokoh agama," urai Ari.

Berdasarkan data yang dimiliki Bareskrim Mabes Polri, rentetan penyebaran hoaks itu terlihat dari penangkapan yang telah dilakukan belakangan ini. Terhitung sejak Januari hingga Februari 2018, sebanyak 26 pelaku penyebaran hoaks tertangkap.

"Tujuannya, tentu saja untuk memprovokasi masyarakat. Untuk itu ditegaskan lagi agar masyarakat jangan mau diprovokasi lalu memprovokasi ulang dengan menyebarkan kabar hoax seperti itu," imbau Ari.

LIPUTAN6

Jumat, 23 Februari 2018

SEMPAT DIDUGA MENYERANG ULAMA, PRIA INI TERNYATA PALAKU PENCULIKAN DAN PENCABULAN

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Pria yang sempat diduga pelaku penyerangan ulama di Desa Karang Satria, Kecamatan Tambun Utara, Kota Bekasi, ternyata adalah pelaku penculikan dan pencabulan anak di bawah umur. Pelaku MFW (35), telah menculik korban WN (15) di daerah Tangerang, Banten, pada Desember 2016 lalu.

Pengungkapan kasus berawal saat pelaku dan korban yang baru selesai bermain game di warnet Pasar Rawa Kalong mendatangi Masjid Jami Al-Qursiah di Desa Karang Satria, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi. Keduanya lalu bertemu dengan DKM dan anak ustaz RD,

"Kemudian keduanya dipertemukan dengan Ustaz RD di rumahnya. Setelah berbincang- bincang, keduanya kembali ke sekretariat DKM sambil marah-marah. Di sana lalu pelaku marah-marah dan berkata tidak sopan, sehingga menyinggung anak buah Ustaz RD dan kemudian dilaporkan ke polisi," kata Kapolsek Tambun, Kompol Rahmat Sujatmiko melalui pesan tertulis kepada Okezone, Kamis 22 Februari 2018.

Pihaknya lalu melakukan interogasi kepada keduanya, dan memperoleh hasil mengejutkan, yakni WN ternyata merupakan warga Jalan Flamboyan Merah, Blok UV 4 Cluster Udayana, Kelurahan Pasar Kemis, Kecamatan Jatiuwung, Tangerang, Banten yang diculik pelaku lebih dari setahun.

"Kala itu pelaku mengiming-imingi korban dengan penghasilan antara Rp300.000 s/d 1.000.000," ujarnya.

Selama dalam penculikan, korban sering diajak untuk meminta-minta bantuan kepada Dinas Sosial/Depsos dan DKM Masjid. Pelaku yang berpura-pura sebagai mualaf, terus meminta sumbangan ke berbagai daerah, seperti Medan, Padang, Jambi, Palembang dan Riau, sambil menyertakan surat keterangan mualaf yang dibuat pelaku.

"Uang hasil meminta-minta digunakan pelaku untuk membeli alat-alat game dan bermain di warnet. Sementara untuk korban hanya diberikan makan saja," paparnya.

Sementara dari hasil penyidikan juga diketahui, jika korban telah mengalami dua kali kekerasan seksual dari pelaku, yakni di Jambi dan Medan. "Jadi pelaku tak hanya menculik korban, tapi juga melakukan kekerasan seksual kepada korban," tutupnya.

Polisi pun telah mengamankan sejumlah barang bukti, antara lain 2 lembar surat mualaf yang dikeluarkan Masjid Jami Nurul Iman Cimone Tangerang, 1 stempel DKM Masjid Jami Nurul Iman Cimone Tangerang, 3 buah tetikus, 1 buah headphone, 5 lembar tiket bus dan 3 lembar surat kehilangan dari pihak kepolisian.

Pelaku kini dijerat dengan Pasal 82 dan 83 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

OKEZONE

PRESIDEN JOKOWI: SILAKAN BERBONDONG-BONDONG "JUDICIAL REVIEW" UU MD3 DI MK

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Presiden Joko Widodo memastikan tidak akan membuat peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu) terkait Undang-Undang tentang MPR, DPR, DPRD dan DPD (MD3). Ia lebih memilih mendukung masyarakat untuk ramai-ramai menggugat UU tersebut ke Mahkamah Konstitusi (MK).

"Saya kira hal-hal tidak akan sampai ke sana. Yang tidak setuju, silakan berbondong- bondong ke MK untuk di- judicial review," ujar Presiden Jokowi saat ditemui di Kompleks Asrama Haji Jakarta Timur, Rabu (21/2/2018).

Presiden Jokowi mengatakan mengamati reaksi masyarakat atas UU MD3, terutama mereka yang merasa resah.

"Saya memahami keresahan-keresahan yang ada di masyarakat. Banyak yang mengatakan, ini hukum dan etika kok dicampur aduk. Ada yang mengatakan, politik sama hukum kok ada campur aduk, ya itu pendapat-pendapat yang saya baca, yang saya dengar di masyarakat," lanjut dia.

Kepala Negara sangat setuju bahwa kualitas demokrasi di Indonesia tak boleh turun.

Atas dasar itu, Presiden Jokowi pun belum menentukan apakah akan menandatangani UU itu atau tidak. Meski lembaran pengesahan UU itu sudah ada di atas mejanya, ia masih mengkaji dan menimbang-nimbang, akan menandatanganinya atau tidak.

Presiden Jokowi mengakui, menandatangani atau tidak akan menuai konsekuensi yang sama, yaitu tetap sahnya UU MD3 tersebut. Namun, ia tidak ingin jika menandatangani UU tersebut dianggap sebagai mendukung penuh, padahal sebaliknya.

"Saya tanda tangani, nanti masyarakat menyampaikan, wah ini mendukung penuh. Enggak saya tanda tangani juga itu (UU MD3) tetap berjalan. Jadi masih dalam kajian ya," lanjut dia.

KOMPAS

SEBAR UJARAN KEBENCIAN, PNS DAN GURU HONORER BANJARNEGARA JADI TERSANGKA

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Banjarnegara dan seorang guru honorer ditetapkan sebagai tersangka ujaran kebencian.

Kapolres Banjarnegara AKBP Nona Pricillia Ohei mengatakan, setelah melakukan penyelidikan dan pengembangan serta memeriksa saksi–saksi, Polres Banjarnegara menetapkan dua bersaudara A dan S sebagai tersangka penyebar video 'PDIP & PKI Siap Membantai Umat Islam'.

Menurutnya, tersangka A merupakan oknum PNS Banjarnegara dan S bekerja sebagai guru honorer di wilayah Kecamatan Wanadadi.

"Kasus ini berawal dari laporan Sekretaris DPC PDI Perjuangan Banjarnegara, Nuryanto, kemudian kami lidik dan akhirnya berkembang penetapan tersangka," katanya, kemarin.

Kronologi penyebaran video dilakukan A kepada S. A menyebarkan ke grup 'Kartuna Semarkid' yang beranggotakan 33 orang. Sementara S menyebar kepada kerabat dekat. Motif mereka menyebarkan video tersebut untuk memberitahu orang lain.

"Penetapan tersangka karena keduanya sudah mengetahui isi video itu, namun tetap menyebarkannya," ujarnya.

Dalam kasus ini, keduanya terancam hukuman penjara paling lama 6 tahun dan atau denda paling banyak satu milyar sesuai Pasal 45 ayat 2 UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi elektronik (ITE).

“Setelah mentapkan dua orang tersangka, hingga saat ini kita juga masih menelisik asal muasal video tersebut,” jelasnya.

Kasus itu semula diperkarakan oleh Nuryanto yang menjabat Sekretaris DPC PDIP Banjarnegara. Nuryanto mengatakan video tersebut berisi ujaran kebencian yang mengandung fitnah. Selain menyerang PDIP juga memecah belah warga.

“Meski telah ditetapkan sebagai tersangka, namun keduanya belum kita tahan,” pungkasnya.

SUARAMERDEKA

ASN DI BANJARNEGARA TERSANGKA PENYEBARAN VIDEO PENISTAAN PARTAI

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Polres Banjarnegara menetapkan dua tersangka terkait penyebaran video dengan judul 'PDI-P & PKI Siap Membantai Umat Islam'. Dua orang tersebut adalah A yang merupakan aparatur sipil negara (ASN) dan S yang merupakan tenaga honorer di sekolah.

Kapolres Banjarnegara, AKBP Nona Pricillia Ohei, mengatakan penetapan dua tersangka terkait ujaran kebencian ini setelah melakukan pendalaman dengan meminta keterangan saksi dan ahli pidana, ahli bahasa dan ahli ITE. Keduanya tidak ditahan namun proses hukumnya akan tetap berlanjut.

"Dua tersangka ini dikenakan pasal 45a ayat 2 UU ITE. Ancamannya adalah kurungan 6 tahun penjara," ujarnya di Mapolres Banjarnegara, Rabu (21/2/2018).

Disampaikan, kronologi penyebaran video tersebut, tersangka A mendapatkan video dari grup keluarga. Dalam grup tersebut penyebar video adalah S yang merupakan tenaga honorer di salah satu sekolah di Banjarnegara.

"Jadi S menyebarkan video itu ke grup keluarga. Dan A menyebarkan lagi ke grup 'Kartuna Semarkid'. Dari situlah kemudian tersangka A dilaporkan oleh DPC PDI-P Banjarnegara. Hubungan antara tersangka A dan S adalah saudara," terangnya.

Saat ditanya motif penyebaran, Nona menuturkan tersangka ingin memberitahukan kepada orang lain terkait keberadaan video tersebut. Padahal, kedua tersangka ini sudah melihat isi video, tetapi mereka tetap menyebarkan ke orang lain lagi.

"Karena mereka sudah mengetahui isi video itu tetapi masih tetap menyebarkan. Hal ini menjadi dasar kami untuk menetapkan sebagai tersangka," kata dia.

Sementara mengenai asal dan siapa pembuat video tersebut, Nona mengatakan masih melakukan penyelidikan.

Sebelumnya, Sekretaris DPC PDI Perjuangan Banjarnegara, Nuryanto, melaporkan adanya ujaran kebencian terkait video berjudul 'PDI-P & PKI siap membantai umat Islam'. Menurut Nuryanto, video tersebut meresahkan, menyerang kehormatan partai dan dapat memecah belah warga.

DETIK

BARESKRIM TANGKAP GURU SEBARKAN HOAX SOAL MEGAWATI

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menangkap guru berinisial SF. Pria 35 tahun itu ditangkap atas tuduhan menyebarkan berita bohong alias hoax terkait Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri melalui media sosial.

Kasubdit 1 Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes Irwan Anwar mengatakan, SF ditangkap di Jalan KS Tubun, Taman Asri Baradatu, Way Kanan, Lampung, pada Rabu, 21 Februari 2018 kemarin.

"Tersangka adalah pemilik akun Facebook bernama Sandi Sikumbang," ujar Irwan melalui keterangan tertulisnya, Jakarta, Kamis (22/2/2018).

Melalui akun Facebook tersebut, SF mengunggah konten diduga hoax berkaitan dengan pernyataan Megawati. Konten tersebut, antara lain, "Megawati minta Pemerintah Tiadakan Adzan di Masjid Karena Suaranya Berisik". Dia juga mengunggah berita hoax soal PKI yang disandarkan pada Megawati.

"Hasil pemeriksaan awal di dalam handphone SF terdapat akun Facebook atas nama Sandi Sikumbang yang mem-posting informasi hoax itu," terang Irwan.

Dalam penangkapan ini, polisi juga menyita sejumlah barang bukti, antara lain, 1 buah ponsel berikut SIM card dan fotokopi KTP.

Atas perbuatannya, SF dijerat dengan Pasal 14 ayat 2 UU No 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana, yaitu penyebaran informasi bohong.

Oknum guru itu juga dijerat Pasal 45 A ayat (2) juncto Pasal 28 ayat 2 UU No 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), serta Pasal 16 juncto Pasal 4 huruf b angka 1 UU No 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

LIPUTAN6

GURU PENYEBAR HOAX SOAL MEGAWATI MINTA ADZAN DITIADAKAN DITANGKAP

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Tim Subdit I Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menangkap penyebar berita hoax, Sandi Ferdian (34). Pelaku yang seorang guru itu menyebarkan berita hoax soal Megawati Soekarnoputri yang meminta pemerintah menghentikan adzan.

"Tersangka menyebarkan berita bohong dan konten SARA melalui grup WA dan sosial media," kata Kasubdit I Direktorat Siber Bareskrim Polri, Kombes Irwan Anwar, kepada detikcom, Kamis (22/2/2018).

Tersangka ditangkap pada Rabu 21 Februari 2018 di Jl KS Tubun, Taman Asri Baradatu, Kecamatan Way Kanan, Lampung. "Tersangka bekerja sebagai guru," imbuhnya.


"Dia pemilik akun FB 'Sandi SiKumbang yang menyebarkan berita: MEGA WATI MINTA PEMERINTAH TIADAKAN ADZAN DI MASJID, KARNA SUARANYA BERISIK," sambungnya.

Sementara dia juga memposting tulisan berkonten SARA di akunnya itu. "Selamatkan anggota kami. Anggota PKI adalah anggota paling suci sedangkan Islam itu sesat," kata Irwan menirukan postingan tersebut.

Postingan itu menjadi viral di media sosial. Bahkan, tersangka mengklaim bahwa berita itu didapatnya dari sebuah media nasional. "Menurut keterangan tersangka berita tersebut didapat dari "Media Indonesia" dan di copy berita selanjutnya disebarkan melalui akun FB "Sandi SiKumbang"," terangnya.

Dari tersangka polisi menyita satu buah HP berikut SIM Card dan fotocopy resi KTP. Tersangka dijerat dengan Pasal 14 ayat 2 Undang Undang Republik Indonesia No 1 tahun 1946 dan Pasal 45 A ayat (2) Jo Pasal 28 ayat 2 Undang-Undang Nomor 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pasal 16 Jo pasal 4 huruf b angka 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

DETIK

Kamis, 22 Februari 2018

BILLY GRAHAM, PENDETA PALING MENDUNIA TUTUP USIA 99 TAHUN



Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Pendeta dan penginjil paling terkenal asal Amerika Serikat, Billy Graham meninggal dunia pada usia 99 tahun. Billy Graham semasa hidupnya sudah berkhotbah hampir di seluruh belahan dunia. Bahkan dia pernah memberitakan injil hingga Korea Utara dan ke berbagai daerah pedalaman lainnya.

Dikutip dari laman Reuters, Billy Graham memiliki pengikut hingga puluhan juta orang dan tak hanya berada di AS. Dia mengabdikan diri menjadi pendeta sudah lebih dari 70 tahun.

Billy Graham juga sosok yang sangat dihormati para Presiden AS dari masa ke masa. Dia tutup usia pada Rabu, 21 Februari 2018.

Juru bicara Billy Graham Evangelistic Association, Jeremy Blume mengatakan, Pendeta Graham wafat sekira pukul 08.00 pagi di kediamannya di Montreat, North Carolina, AS.

Billy dikenal dengan sosok yang memiliki mata biru dan berkarakter kuat. Dia dikenal sangat gamblang dalam menyampaikan khotbah-khobahnya termasuk mengingatkan soal ajaran Yesus Kristus sebagai solusi masalah kemanusiaan di dunia.

Melalui rilis lembaga pelayanannya, Billy Graham disebut sebagai pengkhotbah yang paling banyak menjangkau jemaat di dunia yakni hingga ratusan juta orang baik melalui ceramah langsung, televisi, satelit dan media lainnya. Selama ini, dia juga dipercaya menjadi penasihat Presiden AS.

"Rasanya dia adalah pemimpin yang termasuk paling dominan di eranya," kata penulis AS William Martin yang menulis buku “A Prophet With Honor: The Billy Graham Story.”

Tak lama setelah kabar duka ini beredar, Presiden AS Donald Trump langsung menyampaikan ucapan dukacita.

"Orang besar yang kita punya, Billy Graham sudah wafat, tak ada yang bisa menyamai sosoknya. Umat Kristen dan banyak orang di dunia pasti akan merindukan dia," kata Trump melalui Twitter.

VIVA

PENGINJIL BERPENGARUH DI DUNIA BILLY GRAHAM MENINGGAL DI USIA 99 TAHUN



Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Pendeta Billy Graham, salah satu penginjil berpengaruh di dunia asal Amerika Serikat (AS) meninggal dunia pada usia 99 tahun, Rabu (21/2/2018).

Dia dianggap sebagai sosok yang mengubah kehidupan religius Amerika melalui khotbahnya. Dia juga dikenal sebagai penasihat bagi presiden dan penginjil Kristen yang paling banyak didengar dalam sejarah.

Graham, yang telah lama menderita kanker, pneumonia dan penyakit lainnya, meninggal di rumahnya di North Carolina. Demikian disampaikan juru bicaranya, Mark DeMoss, mengatakan kepada The Associated Press.

Graham membangun Evangelikalisme menjadi kekuatan yang menyaingi Protestanisme dan Katolik Roma yang liberal di AS. Dijuluki “pastor Amerika”. Dia juga dipercaya oleh sederat presiden AS dari Jenderal Dwight Eisenhower hingga George W. Bush.

Pada tahun 1983, Presiden Reagan memberi Graham penghargaan “Presidential Medal of Freedom”, yang merupakan simbol kehormatan sipil tertinggi di Amerika. Ketika Museum dan Perpustakaan Billy Graham diresmikan pada tahun 2007 di Charlotte, mantan Presiden George H.W. Bush, Jimmy Carter dan Bill Clinton hadir.

”Ketika dia berdoa dengan Anda di Oval Office atau lantai atas di Gedung Putih, Anda merasa dia sedang berdoa untuk Anda, bukan presiden,” kata Bill Clinton pada upacara peresmian kala itu.

Graham tenar juga melalui radio jaringan, kolom surat kabar hingga film penginjilan. Pesan Graham tidak rumit, namun khotbahnya diminati jutaan penonton televisi di seluruh dunia.

SINDONEWS

RIZIEQ BATAL PULANG, ALUMNI 212 SALING SERANG

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Rizieq Shihab batal pulang ke Tanah Air. Saling serang antara Presidium Alumni 212 dan Persaudaraan Alumni 212 pun mengemuka.

“Hal ini [batalnya Rizieq pulang] menyesakkan dada kita semua,” kata Juru Bicara Presidium Alumni 212 Aminuddin dalam keterangan tertulis kepada Tirto, Rabu (21/2).

Ia mengomentari batalnya imam besar FPI, Rizieq Shihab pulang ke Indonesia pada hari ini. Rizieq sebelumnya sempat dikabarkan kembali ke tanah air dengan menggunakan pesawat Saudi Airlines sekitar pukul 09.00. Rizieq menyampaikan langsung kabar batalnya kedatangan dia ke Indonesia melalui sambungan telepon. Suara telepon Rizieq diperdengarkan melalui pengeras suara di Masjid Baitul Amal, Tangerang.

Batalnya Rizieq pulang ke Indonesia memicu beragam komentar dari pendukungnya. Aminudin mengatakan Presidium Alumni 212 sudah mengkhawatirkan klaim Persaudaraan Alumni 212 bahwa Rizieq akan pulang hari ini. Ia menilai klaim Presidium Alumni 212 tentang kepulangan Rizieq terlalu tergesa dan akhirnya merugikan umat. “Lain kali teman-teman di Persaudaraan Alumni 212 jangan lagi grusa-grusu. Kasian umat yang sudah dari jauh-jauh ingin ikut menyambut kedatangan ulamanya, habibnya untuk kesekian kalinya harus gigit jari,” ujar Aminudin.

Bagi Aminudin sikap Persaudaraan Alumni 212 yang dipimpin Slamet Maarif patut dikritik. Menurutnya kedatangan umat di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng justru membebani batin Rizieq. Aminudin menuntut Slamet dan panitia penyambutan Rizieq di Persaudaraan Alumni 212 bertanggung jawab dan menjelaskan secara terbuka alasan Rizieq tak jadi pulang. “Menjelaskan secara jujur dan transparan kenapa Imam Besar Habib Rizieq Shihab tidak jadi pulang ke Indonesia,” kata Aminudin.

Aminudin mengatakan Persaudaraan Alumni 212 juga mesti meminta maaf kepada umat Islam yang sudah hadir di Bandara Soekarno-Hatta untuk menyambut kedatangan Rizieq. “Apalagi yang datang dari berbagai penjuru luar kota,” ujarnya.

Yang tidak kalah penting, Slamet meminta Persaudaraan Alumni 212 melaporkan secara transparan penggunaan dana sumbangan dari umat terkait kegiatan penyambutan Rizieq. Menurutnya panitia harus berjanji untuk tidak lagi menjadikan Rizieq sebagai objek spekulasi yang bisa merusak kepercayaan umat. “Karena dengan kejadian ini umat akan semakin hilang kepercayaannya kepada ulama khususnya yang tergabung dalam persaudaraan alumni 212,” kata Slamet.


Dinilai Pernyataan Sampah

Slamet Maarif, Ketua Persaudaraan Alumni 212 berang dengan kritik yang disampaikan Aminudin. Baginya pernyataan Aminudin tidak bermakna. “Ini sampah saja yang mengotori perjuangan,” ujar Slamet kepada Tirto.

Slamet mengatakan komentar Aminudin yang mengatasnamakan Presidium Alumni 212 tidak perlu ditanggapi. Ia beralasn Presidium Alumni 212 sudah bubar dan berganti nama menjadi Persaudaraan Alumni 212 sebagaimana disetujui Rizieq. “Yang keduanya untuk apa kita menanggapi orang yang sudah gak taat sama Habib Rizieq? gak ada manfaatnya juga,” kata Slamet.

Slamet mengingatkan pernyataannya bahwa Presidium Alumni 212 telah berganti nama menjadi Persaudaraan Alumni 212 bukan sekadar klaim. Ia pun menyinggung rekaman pernyataan Rizieq tentang pembatalan pulang dirinya yang diperdengarkan panitia di Masjid Baitul Amal Cengkareng. Di dalam pernyataan itu Rizieq berujar: “Dengan musyawarah presidium Alumni 212 yang kemudian dengan kesepakatan mayoritas pendiri dan pengurus mengubah menjadi persaudaraan alumni 212 sehingga disingkat PA 212 melalui musyawarahnya mengusulkan kepulangan saya sekeluarga. maka saya selalu mohon petunjuk kepada Allah SWT untuk memutuskannya. baik Mekkah maupun Madinah. saya selalu meminta petunjuk Allah SWT karena tidak ada petunjuk yang lebih baik daripada petunjuknya Allah SWT.”

Slamet mengartikan pernyataan Rizieq sebagai bentuk restu terhadap perkumpulan yang dipimpinnya. “Artinya yang di bawah komando Rizieq ya cuma persaudaraan. Presidium sudah enggak ada, sudah ganti nama. jadi enggak ada manfaatnya juga saya mikirin orang yang sudah mati dihidupin lagi,” kata Slamet.

Soal anggaran, Slamet mengatakan pihaknya sudah bersikap transparan. Ia mengungkapkan panitia penyambutan hanya mendapat anggaran Rp5,2 juta untuk membeli makan minum di malam dan pagi. Untuk kegiatan lain panitia menggunakan uang sumbangan umat. Namun, ia tak menyebut berapa total besar sumbangan yang masuk.

Slamet menganggap permintaan Aminuddin agar ia menjelaskan alasan kepulangan Rizieq sebagai hal yang mengada-ada. Sebab menurutnya alasan itu sudah disampaikan Rizieq melalui pesan suara. Ia menyimpulkan pihak Presidium Alumni 212 sebagai kelompok di luar barisan komando Rizieq Shihab. “Artinya orang yang mengompor, orang yang mengambil apa namanya untuk menaikkan pamornya dengan momen 212 ini,” katanya.

“Itu orang-orang yang tidak taat kepada habib, orang-orang yang sudah keluar dari barisan habib Rizieq.”

Pendiri Presidium Alumni 212 yang sekarang menjadi Ketua Garda Alumni 212 Ansufri Idrus Sambo mengaku sejak awal tidak percaya dengan klaim Persaudaraan Alumni 212 soal kepulangan Rizieq. Alasannya informasi kepulangan itu tidak pernah datang dari Rizieq langsung. “Sebelum habib keluarkan video dia [berisi pernyataan] mau pulang, kami belum mau percaya. Ini kan dia [Persaudaran Alumni 212] belum keluarkan pernyataan yang pasti dari mulut habib,” kata Sambo.

Sambo menilai klaim-klaim kepulangan Rizieq yang disampaikan Persaudaraan Alumni 212 tidak tepat. Klaim itu menurutnya justru hanya akan membebani batin Rizieq. Sambo meminta Persaudaraan Alumni 212 meminta maaf atas pembatalan Rizieq pulang ke Tanah Air. “Kalau saya pikir kurang bijaksana memaksakan habib pulang. Karena dia [Rizieq] orangnya enggak enakkan,” kata Sambo.

Saat ini, kata Sambo, tidak ada urgensi bagi Rizieq kembali ke Tanah Air. Menurutnya Rizieq akan lebih pas kembali ke Tanah Air menjelang Pemilihan Presiden 2019. “Terlalu dini dia datang sekarang apa yang mau diperjuangkan. Kalau untuk pilpres datang masih mungkin lah,” ujarnya.

Sambo menilai batalnya kepulangan Rizieq memiliki sisi positif dan negatif. Di satu sisi hal ini bisa menjadi semacam uji coba untuk mengetahui seberapa besar dukungan umat kepada Rizieq. Namun di sisi lain hal ini juga menimbulkan kekecewaan di kalangan pendukung Rizieq. “Saya bersifat netral saja. Tidak mau berprasangka buruk. Kita bisa lihat sisi negatif dan positifnya,” ujar Sambo.

TIRTO

BARESKRIM SELIDIKI KELOMPOK MIRIP SARACEN DI JAWA BARAT

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)
 
Bareskrim menduga ada kelompok ujaran kebencian dan berita bohong mirip Saracen di Jawa Barat. Kelompok ini disinyalir muncul berkaitan dengan pilkada serentak mendatang.

"Kami mensinyalir menduga kuat ada kelompok yang menyerupai Saracen. Insyallah tidak dalam waktu lama akan kami ungkap," kata Kepala Patroli Satgas Siber Bareskrim Polri Kombes Irwan Anwar di gedung Siber Bareskrim, Cideng, Jakarta Pusat, Rabu (21/2/2018).

Selain di Jawa Barat, kelompok ini akan beroperasi di Banten dan Jawa Timur. Kelompok ini diduga akan menyebarkan informasi mengenai penculikan ulama, tokoh agama, dan isu kebangkitan PKI.

Bareskrim memang menangkap 18 orang dari Banten, Jawa Barat, Jakarta Timur, Lampung, dan Sumatera Utara sepanjang 2018. Dari jumlah itu, 8 orang diduga berhubungan dengan kelompok mirip Saracen tersebut.

"Kami menduga ada kelompok menyerupai Saracen. Bahkan dari jaringan itu, mereka sudah ada 8 orang yang kami proses. Yang lainnya hanya menyebar ke grup WhatsApp dan media sosial," ujarnya.

DETIK

AKTIVIS GUSDURIAN NILAI INDONESIA LEBIH BAIK TANPA RIZIEQ



Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Aktivis Jaringan Gusdurian Syafiq Alielha menyambut gembira penundaan kepulangan pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab ke Indonesia.

Sambil tertawa, ia mengatakan Indonesia akan menjadi negara yang lebih baik jika Rizieq tetap berada di Arab Saudi.

"Biarkan saja dia tidak pulang. Sepertinya itu bakal baik untuk Indonesia," kata Syafiq kepada wartawan di Universitas Atmajaya, Jakarta Selatan, Rabu (21/2).

Pria yang akrab disapa Savic Ali itu menilai sejak didirikan pada medio 1998 lalu, FPI seringkali melakukan tindak kekerasan dan intimidasi yang meresahkan masyarakat.

"Perlu diingat bahwa Rizieq juga sudah dua kali dipenjara karena tindak kekerasan," kata Savic.

Ia lantas mengenang pengalaman buruk dirinya terkait FPI.

Kata Savic, ia pernah diintimidasi dan dikepung oleh anggota FPI dengan alat tajam pada 1999 akibat menurunkan spanduk bertuliskan tuduhan gerakan mahasiswa disusupi komunis.

Saat itu, kata dia, banyak spanduk-spanduk yang menyatakan gerakan mahasiswa telah disusupi komunis.

"Saya dan kawan-kawan pernah dikepung FPI, karena ada teman kami yang mencabut spanduk black campaign antikomunis di depan sebuah kampus," ujarnya.

"Eh, ternyata ada yang jagain dan mereka anggota FPI. Selang beberapa jam kami pun didatangi ratusan anggota FPI," tuturnya.

Rizieq rencananya kembali ke Indonesia pagi tadi setelah berbulan-bulan berada di Arab Saudi. Dia menyatakan sudah menyiapkan tiket pulang, namun terpaksa dibatalkan karena sejumlah hal.

Pembatalan kepulangannya, kata Rizieq, setelah melakukan istikaharah. Namun ia juga meminta kepada para pendukungnya agar tidak kecewa dengan penundaan kepulangannya.

CNN

DIDUGA SEBAR HOAX SOAL PKI, GURU SMA DI BANTEN DITANGKAP POLISI



Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...Jangan lupa Share dan Komen ya :)

Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menangkap seorang guru SMA di Banten bernama Yayi Haidar Aqua. Dia diduga mengunggah berita bohong mengenai PKI lewat akun Facebook 'Ragil Prayoga Hartajo'.

Direktur Tindak Pidana Siber Polri Fadil Imran mengatakan, lewat akun Facebook-nya 'Ragil Prayoga Hartajo', Yayi menyebar berita bohong dengan judul '15 juta anggota PKI dipersenjatai untuk Bantai Ulama'. Dia pun kemudian ditangkap untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

"Telah dilakukan upaya pengkapan terhadap pelaku penyebaran berita bohong berupa konten adanya '15 juta anggota PKI dipersenjatai untuk Bantai Ulama'," kata Fadil dalam keterangannya yang diterima detikcom, Rabu (21/2/2018).

Yayi ditangkap di Rangkas Bitung, Lebak, Banten, pada Selasa (20/2) sekitar pukul 01.00 WIB. Dari lokasi, polisi menyita alat bukti berupa dua unit telepon selular beserta dua buah simcard.

Yayi kini ditahan polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dia dikenai Pasal 16 Jo pasal 4 huruf b angka 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan/atau pasal 45A ayat (2) Jo pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik tentang SARA dengan ancaman hukuman di atas 5 tahun.

Fadil pun mengimbau agar masyarakat lebih bijak dalam bermedia sosial. "Think before click (pikir ulang sebelum mengunggah ke media sosial-red)," ucapnya.

DETIK