OBAMA BESUK KORBAN PENEMBAKAN AURORA

Ayo Langganan Gratis Berbagi Berita...

 Presiden Barack Obama mengunjungi kota Aurora di pinggiran Denver, Colorado, yang terkoyak oleh berondongan bedil James Holmes.

Penembakan Jumat malam pekan lalu itu, membuat Obama terlihat emosional, tulis the Guardian Senin (23/7) pagi WIB ini. Obama hari Minggu langsung berempati mengunjungi para korban selamat dan sanak keluarga yang tewas oleh serangan membabi-buta James Holmes. Inilah serangan mirip horor yang terakhir melanda Amerika.

Obama datang ke Rumah Sakit Universitas Colorado, dekat dengan tempat kejadian perkara (TKP) di Aurora. Obama lebih bertindak sebagai pelindung rakyatnya daripada seorang presiden. “Saya datang kepada para korban penembakan ini tak terlalu sebagai presiden, tapi lebih sebagai seorang ayah dan suami,” katanya.

Obama juga menyimak cerita bagaimana seorang perempuan muda menyelamatkan nyawa temannya dengan tetap tinggal di dalam gedung bioskop, mengusap perdarahan temannya itu dengan tangannya sendiri, selagi rentetan tembakan memekakkan telinga.

”Bahkan di hari-hari yang gelap sekalipun kehidupan harus berlanjut, orang-orang harus tangguh, orang-orang harus bangkit dan orang-orang harus bertahan,” kata Obama menyemangati para korban dan familinya.

Pidato Obama juga dikelola dengan cerdik. Ia tak terjebak oleh omongannya yang bisa menimbulkan percikan gosip politik yang bisa menjerumuskan karir politiknya. Ia tidak menyebut nama si penembak gila, ia tak menyinggung soal pengetatan kepemilikan senjata agar tak terjadi penembakan massal lagi di AS.

Bersamaan dengan kedatangan Obama di Aurora, rincian korban mulai bermunculan. Polisi sudah merilis nama 12 orang korban yang tewas, termasuk seorang anggota Angkatan Laut AS dan seorang anak berusia 6 tahun yang ibunya terluka dan masih dirawat di rumah sakit universitas.

Apa yang menjadi latar belakang penembakan membabi-buta yang dilakukan oleh James Holmes, mungkin bisa mulai terkuak saat dia muncul di persidangan pertama Senin ini.

Pembunuhan kejam yang terjadi di pinggiran Denver ini mengejutkan warga lokal dan seluruh dunia. Dibandingkan pembunuhan massal dan acak lainnya yang pernah terjadi, penembakan di Aurora terlihat masih lebih kejam dan sadistis.

Holmes, 24 tahun, menyelinap dari pintu samping teater 9 di Century 16 sebelum pertunjukan film Batman “The Dark Night Rises” dimulai. Ketika masuk ke teater 9, Holmes sudah lengkap dengan senapan serbu militer, bedil dan pistol dari rambut sampai jempol kakinya bersenjata lengkap.

Ia mengecat rambutnya dengan warna merah, merujuk pada penampilan Joker pada film Batman klasik, saat digelendeng ke tahanan. Polisi antibom menyisir apartemen studio milik Holmes yang berjarak hanya beberapa mil dari Century 16. Mereka menggunakan robot untuk menjinakkan peledak terkait dengan kabel-kabel yang ditingalkan Holmes di apartemennya di Jalan Paris.

Holmes diduga mempersiapkan serangan bersenjata ini selama berbulan-bulan. Dia menghabiskan uang sekitar US$15 ribu yang dibelanjakan di internet untuk membeli persenjtaan dan 6.000 butir peluru serta baju antipeluru.

Setidaknya ada 90 paket yang dikirim ke apartemen Holmes selama empat bulan, yang dilacak polisi dari pembelian-pembeliannyalewat internet. Anak pintar ini memang cermat merencakan penembakan acak dan massal itu. Namun kegilaannya melebihi kepintarannya.

INILAH

Posting Komentar

0 Komentar